DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Target Pertumbuhan Ekonomi era Anies-Sandi Dinilai tak Realistis

Arga sumantri - 03 April 2018 08:15 wib
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakilnya, Sandiaga Uno. Foto: Antara/Wahyu Putro
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakilnya, Sandiaga Uno. Foto: Antara/Wahyu Putro

Jakarta: Fraksi Hanura DPRD DKI menilai target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan Gubernur Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno tidak realistis. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022, Pemprov DKI menargetkan pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 7%.

"Kami melihat bahwa proyeksi angka 7% pada 2022 adalah sesuatu yang tidak realistis," kata Anggota Fraksi Hanura DKI Syarifuddin saat membacakan pandangan fraksi dalam paripurna Raperda RPJMD di Gedung DPRD DKI, Senin, 2 April 2018.

Syarifuddin menyebut, angka rata-rata proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya berkisar 5 sampai 6 persen. Pada 2022, kata dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 6,2 persen.

"Oleh karena itu kami meminta agar eksekutif membuat angka pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang dengan menggunakan angka capaian yang realistis," ujar Syarifuddin.

Baca: Anies Kaji Masukan DPRD DKI

Hanura DKI juga menyoroti target APBD DKI Jakarta pada 2022 yang mencapai Rp115,16 triliun dalam RPJMD. Syarifuddin menilai target itu juga tidak realistis. Dengan catatan, apabila tidak diikuti dengan penyesuaian struktur pendapatan dan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah yang ada.

"Dan peningkatan kesadaran dan ketaatan masyarakat untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak," ujarnya.

Fraksi NasDem DKI juga memberikan catatannya terkait target pertumbuhan ekonomi yang dipatok Anies-Sandi. Ketua Fraksi NasDem Bestari Barus menyampaikan kalau World Bank, IMF dan Multilateral Economics lainnya memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh antara 5-5,1 persen.

Penilaian ini, kata Bestari dipengaruhi oleh adanya ketidakpastian harga minyak dunia yang terus merangkak naik, dan tekanan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat merupakan siklikalitas yang sulit dihindari. Kondisi itu terjadi ketika pergerakan barang dan jasa serta harganya fluktuatif.

Baca: Anies-Sandi Diminta tak Alergi pada Program Lama

Selain itu, lanjut Bestari, masalah politik global di beberapa kawasan juga membuat investor menunda investasinya (wait and see) di Indonesia. Hal ini juga dinilai berpengaruh terhadap asumsi target pertumbuhan ekonomi Jakarta sebagai pusat perekonomian global.

"Berkaitan dengan hal ini, fraksi NasDem memberi dukungan dan apresiasi atas optimistis pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar proyeksi maksimal angka pertumbuhan ekonomi dapat diwujudkan, mohon penjelasan," kata Bestari.


(DMR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PEMPROV DKI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 25-09-2018