Anak-anak dan Fase Hedonisme Naif

- 12 Januari 2018 09:33 wib
Ilustrasi. (MI/Arya Manggala)
Ilustrasi. (MI/Arya Manggala)

Jakarta: Sekjen Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Henny Hermanoe menyebut maraknya tindak kejahatan seksual terhadap anak salah satu faktornya disebabkan oleh lemahnya kontrol sosial masyarakat.

Masyarakat dianggap tak memahami bahwa mereka juga menjadi bagian penting dalam perlindungan anak, memastikan bahwa anak-anak terhindar dari kekerasan seksual maupun perlakuan salah lainnya.

"Masyarakat jangan lagi malu merasa ikut campur urusan orang lain terlebih apabila ada tindakan yang mengarah pada kekerasan terhadap anak," ungkapnya, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 12 Januari 2018.

Henny mengakui bahwa anak-anak adalah makhluk lemah dan sangat mudah tergoda. Dalam sebuah teori dikatakan bahwa anak-anak berada pada fase hedonisme naif, mereka cenderung mengikuti orang yang suka memberikan sesuatu yang mereka butuhkan atau senangi.

Kepada anak yang lebih kecil, umumnya pelaku kejahatan seksual akan mengimingi apa yang menjadi kesukaaan anak, misalnya es krim, permen, mainan, atau sesuatu yang menarik.

"Kepada anak yang usianya lebih besar, yang sudah mampu berpikir, pelaku akan mengimingi sesuatu yang berbeda. Kasus di Tangerang misalnya, pelaku mengimingi punya kekuatan untuk pemikat," katanya.

Berkaca pada kasus kekerasan seksual terhadap anak di Tangerang yang dilakukan Wawan alias Babeh, pada dasarnya anak tidak paham apa yang dimaksud dengan ajian-ajian yang bersifat mistis.

Namun karena keterbatasan tingkat pendidikan dan ekonomi, anak-anak menganggap bahwa memiliki ilmu semacam itu dianggap sebagai sesuatu yang keren.

"Bisa untuk cari uang, akhirnya mereka tertarik dengan iming-iming tersebut," ungkap Henny.

Henny mengatakan potensi kekerasan yang bisa dialami oleh anak bukan semata-mata karena kepolosan dan keluguan mereka, namun juga pengawasan orang tua.

Ketika orang tua mengawasi di mana, kapan, dan dengan siapa anak bermain potensi anak mengalami kekerasan maupun kejahatan seksual bisa ditekan.

Tetapi, di kalangan masyarakat yang tingkat pendidikan dan kemampanan ekonominya cenderung rendah, pengawasan terhadap anak kerap diabaikan. Yang dilakukan orang tua umumnya hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan dalam banyak kasus anak-anak juga ikut dipekerjakan.

"Ketika mereka pulang sekolah kebanyakan dibiarkan saja. Pergi ke warnet, mengakses permainan kekerasan, padahal anak-anak usia 10-13 tahun misalnya sedang mencari jati diri tapi justru tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang dan perhatian orang tua," kata Henny.

Ketika pengawasan orang tua terhadap anak tidak maksimal lantaran sudah banyak waktu yang tersita untuk bekerja, maka peran dan kepedulian masyarakat adalah hal yang paling dibutuhkan.

"Di situlah kita coba mendorong peran serta masyarakat menjadi bagian penting melindungi anak Indonesia," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEKERASAN SEKSUAL ANAK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 22-01-2018