Melindungi Anak dari Kejahatan Seksual

- 12 Januari 2018 11:46 wib
Ilustrasi--Aktivis yang tergabung dalam forum anak DIY melakukan aksi kampanye melawan eksploitasi seksual anak online di Titik Nol Kilometer, Yogyakarta. (Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)
Ilustrasi--Aktivis yang tergabung dalam forum anak DIY melakukan aksi kampanye melawan eksploitasi seksual anak online di Titik Nol Kilometer, Yogyakarta. (Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Jakarta: Sekjen Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Henny Hermanoe menyebut kunci paling dasar melindungi anak dari kejahatan seksual ada pada orang tua.

Ia menilai saat ini ketahanan keluarga dalam melindungi anak semakin renggang, salah satunya karena kehadiran gawai. Namun terlepas dari itu orang tua tetap perlu memperhatikan anak, bukan sekadar ketakutan berlebihan akan bahaya yang bisa mengancam anak.

"Tidak hanya anak perempuan, laki-laki pun sama. Orang tua jangan hanya ketakutan berlebihan tetapi bekali anak-anak kita. Salah satunya dengan edukasi seksual," katanya, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 12 Januari 2018.

Banyak orang tua enggan mengenalkan pendidikan seks sejak dini kepada anak. Alasannya, seks masih dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan.

Bicara seks, kata Henny, yang ada dalam benak dan pikiran masyarakat hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sementara jika dilihat lebih luas, pendidikan seksualitas bukan semata hubungan dengan lawan jenis.

"Pendidikan seks itu juga mencakup peran gender, bagaimana menjaga kebersihan alat kelamin, bagaimana laki-laki dan perempuan itu bersikap, banyak hal sebenarnya," kata Henny.

Menurut Henny, anak-anak sudah mulai bisa dibekali pendidikan dasar tentang seks untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan seksual.

Misalnya berikan pemahaman pada mereka bahwa area mulai dari bagian leher sampai dengan lutut adalah wilayah terlarang yang tidak boleh disentuh orang lain. Ketika anak sudah tahu dan memahami, potensi akan bahaya bisa dihindari.

"Atau misalnya anak bertanya apa itu sodomi, orang tua jangan menghindar tapi jelaskan. Supaya ketika anak melihat atau mengalami dia tidak hanya merasa sakit di bagian belakang tapi tahu bahwa dia adalah korban sehingga bisa disampaikan kepada orang tua," ungkap Henny.  

Pun ketika anak sudah menjadi korban, orang tua bisa mengidentifikasi hal tersebut dengan mengamati apakah ada perubahan sikap pada anak.

Untuk anak yang cenderung masih kecil umumnya akan menunjukkan gejala mimpi buruk atau histeris saat tidur dan malam hari. Sementara anak yang lebih besar akan menutup dan menarik diri dari orang lain.

Umumnya, keengganan anak melapor dan bercerita pada orang tua karena mereka takut atau mendapat ancaman dan intimidasi. Berikan kepercayaan pada anak bahwa orang tua adalah sahabat yang bisa membantu mereka.

"Masing-masing anak punya resiliensi atau ketahanan dalam mengolah stres saat menghadapi sesuatu, saat dia tidak kuat dia akan menyampaikannya, tetapi kebanyakan dari mereka kan menahan diri. Orang tua harus bisa melihat perubahan-perubahan itu," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEKERASAN SEKSUAL ANAK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 22-01-2018