Seperti Narkoba, Ujaran Kebencian pun Punya Pasar

- 14 September 2017 11:52 wib
Ilustrasi. Kampanye anti-berita hoax. (Foto: ANTARA/Wahyu Putro)
Ilustrasi. Kampanye anti-berita hoax. (Foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika bidang Hukum Henri Subiakto mengungkapkan alasan mengapa ujaran kebencian dan hoaks begitu subur di media sosial. Seperti narkoba, Henri menyebut ujaran kebencian dan hoaks punya pasar.

"Ada pasarnya. Ada yang suka dengan hoaks atau ujaran kebencian," ungkap Henri, dalam Metro Pagi Primetime, Kamis 14 September 2017.

Lebih parah lagi, menurut Henri, sebagian orang sudah kecanduan dengan ujaran kebencian yang tersebar di media sosial. Beberapa dari mereka gemar membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya agar orang lain ikut percaya bahwa informasi yang dibagikan valid.

"Secara logis fenomena ini mirip seperti narkoba. Ada pasarnya, ada yang candu, ada juga yang mengedarkan," kata Henri.

Henri mengatakan persoalan mengedarkan hoaks dan ujaran kebencian sudah ditangani oleh aparat kepolisian, misalnya saja grup Saracen. Namun jika dicermati, bukan hanya Saracen masih banyak kelompok serupa yang berkeliaran di media sosial.


Grafik: Media Indonesia

Menurut Henri, latar belakang grup semacam Saracen menyebarkan konten ujaran kebencian bukan hanya karena persoalan bisnis dan uang. Namun juga kecenderungan emosi yang ditumpahkan ke media sosial berupa kebencian yang berbasis SARA.

"Memang ini persoalan sosial, psikologi sosial. Orang-orang seperti itu merasa bahwa dengan hoaks, apa yang dipercayai memang benar. Ini perlu adanya penanganan sosial," ungkap Henri.

Karenanya, Kementerian Kominfo bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun sebuah literasi yang tidak hanya melibatkan satu ditjen saja. Misalnya bekerja sama dengan generasi muda membuat inovasi untuk menangkal hoaks.

Tetapi lebih jauh dari itu, intinya yang dilakukan pemerintah adalah bagaimana menyentuh para pengguna media sosial untuk berpikir logis berdasarkan akal mereka.

Sebab jika mereka dibiarkan dengan cara berpikir bahwa mereka lah yang merasa paling benar, bahkan menjadi bagian dari perjuangan maka ini menjadi persoalan sosial yang harus ditangani oleh semua pihak.

"Bisa dari tokoh nasional, tokoh masyarakat, dan tokoh sosial. Tidak bisa hanya penegakan hukum saja. Karena kalau hanya penegakan hukum mungkin akan dianggap tidak adil dan sebagainya," jelas Henri.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UJARAN KEBENCIAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 24-11-2017