FOKUS

Hari Kebangkitan Moral

Sobih AW Adnan - 20 Mei 2017 00:26 wib
Satu ruangan bekas Gedung STOVIA, kini Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta/ANTARA/Rivan Awal Lingga
Satu ruangan bekas Gedung STOVIA, kini Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta/ANTARA/Rivan Awal Lingga

Metrotvnews.com, Jakarta: Yang kini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, dulu disambut sorak gembira juga oleh penjajah Belanda. Kelahiran Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, dianggap bagian dari keberhasilan pemerintah kolonial dalam menerapkan politik etis.

Merle Calvin Ricklefs, dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008) memberi gambaran cukup jelas terkait babak ini. Gubernur Jenderal yang kala itu dijabat van Heutsz, menyambut baik pendirian BO sama persis ketika merespon bangga atas diterbitkannya Bintang Hindia, sebuah surat kabar yang melulu memberitakan keharmonisan pribumi dan Belanda.

"Memang itulah yang dikehendakinya: suatu organisasi pribumi yang progresif-moderat yang dikendalikan oleh pejabat yang maju," tulis Ricklefs.

Meski begitu, ada juga sedikit pejabat Belanda yang menaruh curiga. Sekumpulan mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) ini, cepat atau lambat bakal melahirkan masalah. 

Beragam

Restu dan dukungan Belanda memang masuk akal. Itu makanya, organisasi yang didirikan Dr.Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji ini dideklarasikan cuma untuk pengabdian sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Tapi, tidak dalam politik. 


Mahasiswa Stovia, duduk ditengah adalah Dr. Sutomo. Repro/MI/RAMDANI

Namun siapa sangka, ramalan pemerintah kolonial itu malah dijebol oleh satu anggota yang masih seketurunan dengan mereka; Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker.

Di BO, ia mengenalkan semangat politik dalam tindakan yang nyata. Dekker, yang kemudian dikenal juga dengan nama pribumi Danudirja Setiabudi itu, mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama di Hindia Belanda.

Ricklefs menyebut, "...partai ini mempermaklumkan nasionalisme 'Hindia' dan menuntut kemerdekaan."

Ya, Dekker, yang seorang Indo-Belanda justru berperan sebagai peletak dasar nasionalisme Indonesia. Tapi, tunggu dulu. Dalam mengamati perjalanan BO, sebenarnya bukan cuma Dekker yang boleh dianggap menarik.

Ketika kekhawatiran Belanda meningkat seiring merebaknya semangat nasionalisme Indonesia, keadaan itu pun mengakibatkan terpecahnya keturunan Tionghoa menjadi dua golongan.

Yang pertama, Chung Hwa Hui alias Sekolah Cina Hindia Belanda. Kelompok ini sering dicibir dengan sebutan Packard, merujuk merk mobil paling mewah masa kolonial. Lantaran memang, kelompok ini kebanyakan berasal dari Tionghoa kaya yang lebih mendukung keberadaan Pemerintah Hindia Belanda.

Kelompok kedua, mereka yang kemudian bernaung di bawah bendera Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Partai yang berdiri 1932, alias tiga tahun sebelum BO bubar ini amat memihak upaya kemerdekaan Indonesia dan mengharapkan kewarganegaraan.

Pendiri PTI ialah Liem Koen Hian. Seorang jurnalis yang banyak mengenalkan wawasan nasionalisme, bukan saja bagi keturunan Tionghoa, namun kepada seluruh pembaca bumiputera. 

Golongan jurnalis Tionghoa ini sebenarnya sudah bergerak lebih lama. Ada nama lain seperti Liem Soen Hian yang sudah memulai gerakan nasionalisme sejak 1887 melalui surat kabar Tjaja Sumatra.

Marthias Dusky Pandoe, dalam Jernih Melihat Cermat Mencatat (2010), mengibaratkan masa-masa itu sebagai zaman renaisans bagi Indonesia. Apa lagi setelah BO berdiri, surat kabar yang mengabarkan semangat nasionalisme Indonesia makin menjamur. 

"Di Padang, terbit surat kabar Sinar Soematra, juga dipimpin Liem Soen Hian. Penerbitnya Y. Rogge dan H.J. Van Tijn," tulis Pandoe.

Para pewarta ini dikenal piawai. Padahal, jelang awal abad 20, pemerintah kolonial melakukan pengawasan dan sensor yang ketat.

"Kadang-kadang beritanya baru dimuat setelah lewat sensor Politieke Inlichtingen DIenst (PID), tetapi banyak juga yang lolos," tulis Pandoe, masih dalam buku yang sama.

Baca: Siapa Indonesia?

Orientasi kebangsaan yang baru di Hindia Belanda terbukti tidak liniar ke tatanan kolonial. Kaum Tionghoa pro-kemerdekaan Indonesia sudah memiliki akar sendiri. Mereka cukup realistis melihat tanda-tanda zaman. Golongan ini, meyakini kemerdekaan Indonesia cuma soal waktu.

Luhur dan bersatu

Permulaan hari kebangkitan nasional mesti disandarkan pada sejarah pendirian BO memang tak begitu gamblang. Bahkan, di beberapa generasi, landasan peringatan 20 Mei ini masih mengundang polemik.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, misalnya, yang dikutip J.B Kristanto dalam 1000 tahun Nusantara (2000) pernah menyatakan keberatannya tentang peran BO dalam kebangkitan nasional.

"Sejak didirikan di tahun 1908 hingga peleburannya ke dalam Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) di tahun 1935, BO tidak beranjak dari organisasi kesukuan (Jawa)," kata Pram.

Pada 2008, sejarawan Rushdi Husein pernah menceritakan awal mula keterkaitan BO dengan hari kebangkitan nasional. Kepada Radio Netherland ia menyebut mulanya ada tiga pembesar yang memang berdiskusi dan mengomentari keterpurukan republik pada 1948.

Ialah Ki Hadjar Dewantoro, Dokter Radjiman, dan Mr. Ali Sastromidjojo. Ketiganya sepakat, bahwa 20 Mei 1908 -yang tak lain tanggal berdirinya BO- itu sebagai hari kebangunan nasional.

"Dan proses selanjutnya adalah membentuk panitia. Ketuanya Ki Hadjar sendiri dan anggotanya semua partai politik. Dengan harapan partai politik yang lagi bertengkar bisa memiliki kesatuan pendapat melawan Belanda," kata Rushdi.

Dan dalam malam resepsi, Presiden Soekarno juga menyampaikan pidato machtspolitiek. Cara menghidupkan semangat politik golongan rakyat untuk melawan Belanda.

Mungkin inilah pertimbangan awal elite bangsa. Menempatkan BO sebagai penanda kebangkitan nasional bukan sembarang. Yakni, persatuan.

Pertimbangan itu terlihat pas. Bagaimanapun, banyak yang berpendapat BO lembek, tidak radikal, dan etisis komplit.

BO, memang menjadi rumah para lulusan STOVIA yang radikal. Tetapi radikalisme yang berada dalam ukuran dan desain yang dibuat pemerintah kolonial. 

Tentu saja sudut pandang itu bisa meleset. Buktinya, BO tetap eksis untuk waktu lumayan lama. Bahkan, sampai dipimpin ketuanya yang terakhir, Dokter Radjiman Wediodiningrat, wibawa BO tetap kuat di kalangan elite.

Dari BO-lah, transformasi kesadaran kebangsaan yang bersifat moderat menemukan proses yang tuntas.

Sisi yang paling menarik mungkin terlihat dari sikap Bung Karno dalam soal penetapan 20 Mei menjadi Hari Kebangkitan Nasional. Bung Karno sebagai representasi dari tokoh non-kooperasi at best. Tak satu pun orang Indonesia bisa menyangkal itu. 

Tengoklah fase paling menentukan menuju kelahiran bangsa ini. Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUKI) yang kemudian menjadi Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI); dipimpin oleh gabungan orang-orang dari jejak ko dan non-ko.

Radjiman dan Soekarno, dua orang tokoh pergerakan dari angkatan tua dan angkatan muda, berada di ruang yang sama menjelang kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Batas ko dan non-ko lebur! 

Jika dimaknai lebih lanjut, tentu, persatuan yang diinginkan Bung Karno juga tidak asal nyatu. Persatuan harus menghargai dan memberikan ruang keberagaman. Satu buat semua. Semua buat satu. 

Intinya, persatuan yang berbudi utama. Atau sebaliknya, kebangkitan moral dan kesadaran untuk tetap bersatu.

Dan, moral persatuan dari semua unsur dalam bangsa inilah warisan para pendiri bangsa. Semangat moral yang hari ini perlu diserukan. 




(SBH)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG HARKITNAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 30-05-2017