Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.676.534.291 (20 JULI 2018)

PPATK Minta Transaksi Tunai Dibatasi

Damar Iradat - 17 April 2018 10:07 wib
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin. Foto: MI/Panca.
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin. Foto: MI/Panca.

Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mendorong masyarakat membatasi transaksi uang tunai. Hal ini untuk menghindari penyuapan, korupsi, money politic, tindak pidana pencucian uang, dan tindak pidana lainnya.
 
Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan, modus pelaku tindak pidana menggunakan transaksi tunai untuk menyulitkan pelacakan asal usul sumber dana dan memutus pelacakan aliran dana. Operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar penegak hukum juga hampir seluruhnya melibatkan uang tunai.
 
Kiagus mengatakan, untuk menurunkan angka kasus korupsi, penyuapan, dan tindak pidana lainnya, pemerintah dan PPATK berencana membatasi transaksi tunas maksimal Rp100 juta.

"Langkah tersebut perlu dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pelaku melakukan tindak pidana," kata Kiagus di kantornya, Jalan Ir. H Juanda, Jakarta Pusat, Selasa, 17 April 2018.
 
Dari data statistik PPATK, korupsi, penyuapan, dan kejahatan lainnya mengalami kenaikan. Sejak 2003 hingga Januari 2018, PPATK telah menyampaikan 4.155 hasil analisis kepada penyidik.

Baca: BPS Bakal Survei Penggunaan Uang Digital 

Dari 1.958 hasil analisis di antaranya merupakan indikasi tindak pidana korupsi dan 113 hasil analisis terindikasi tindak pidana penyuapan uang. Modusnya menggunakan uang tunai dalam bentuk rupiah, mata uang asing, dan cek perjalanan.
 
Menurut Kiagus, pemerintah perlu mengatur peredaran mata uang asing di Indonesia, khususnya dolar Amerika Serikat dan Singapura. Dua mata uang ini kerap dipakai sebagai transkasi korupsi dan penyuapan.
 
Dengan pembatasan transaksi non tunai, Kiagus yakin hal ini dapat meningkatkan aktivitas perekonomian serta meningkatkan kecepatan peredaran uang. Sementara di sisi lain, penghematan pencetakan uang, baik kertas maupun logam yang dapat dilakukan dari pembatasan transaksi tunai juga cukup signifikan. Rata-rata kenaikan pesanan cetak setiap tahunnya sebesar 710 juta bilyet/keping (20,2%).


(FZN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PPATK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-07-2018