Selalu Ada Calon Hakim yang Gangguan Jiwa Usai Pendidikan

Arga sumantri - 12 Januari 2018 18:21 wib
Ilustrasi hakim - MI/Mohamad Irfan.
Ilustrasi hakim - MI/Mohamad Irfan.

Jakarta: Ada fenomena unik dalam proses rekrutmen hakim di lingkungan Mahkamah Agung (MA). Kepala Biro Humas MA Abdullah menyebut setiap tahun ada calon hakim gangguan jiwa usai mendapat pendidikan.

"Setiap habis pendidikan, ada saja yang gangguan jiwa. Tahun lalu dua orang (calon hakim) gangguan jiwa," kata Abdullah di Gedung MA, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Januari 2018.

Abdullah menuturkan salah satu faktor calon hakim gangguan jiwa karena pertentangan batin. Ada sejumlah orang yang jadi hakim lantaran menuruti keinginan orang tua.

"Dulu ada calon hakim, (ingin) jadi guru, orang tua memaksakan jadi hakim. Setelah proses pendidikan, guncang kejiwaannya," ucap Abdullah.

Oleh sebab itu, MA tak bisa berbuat banyak ketika ada 15 calon hakim yang memilih mundur karena alasan personal pada rekrutmen terakhir. Para calon hakim terpilih yang mundur mayoritas tak diizinkan orang tua. 

"Datang ke sini, anaknya sampai memohon-mohon ke orang tuanya, enggak dikasih izin. MA tidak bisa memaksakan, kalau dipaksakan nanti akan berbahaya," beber dia. 

Kosongnya 15 kursi calon hakim itu membuat MA mengerek peserta seleksi dengan urutan di bawahnya. Berdasarkan hasil seleksi calon hakim 2017, total ada 1.577 calon hakim yang diterima. Mereka terdiri dari 1.035 laki-laki dan 542 perempuan.

Jumlah itu sudah dikurangi dengan calon hakim yang mengundurkan diri karena alasan-alasan tertentu. Para calon hakim hasil seleksi akan menjalani pendidikan dan pelatihan pada Februari mendatang di Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah pihak di luar MA akan dilibatkan dalam pendidikan dan pelatihan calon hakim tersebut. Beberapa lembaga yang sudah mengonfirmasi ambil bagian yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Yudisial (KY) Ombudsman, Kementerian Pan-RB, Badan Kepegawaian Negara (BKN). Pendidikan dan pelatihan itu diharapkan akan dapat membangun integritas para calon hakim. 

Perlu diketahui, selama 2009 hingga 2017, Komisi Yudisial telah menggelar 49 kali sidang Majelis Kehormatan Hakim. Sebagian besar pelanggaran integritas hakim terkait praktik suap dan jual beli perkara.

 


(REN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MAHKAMAH AGUNG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-04-2018