YLKI: Kemenag Mandul Awasi Biro Umrah

M Sholahadhin Azhar - 22 September 2017 18:45 wib
Ketua Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi. (Foto: MTVN/M Sholahadhin Azhar).
Ketua Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi. (Foto: MTVN/M Sholahadhin Azhar).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengawasan penyelenggara umrah dianggap lemah, terlihat dari banyaknya kasus penelantaran jemaah. Padahal ini merupakan tanggung jawab penuh dari Kementerian Agama (Kemenag).

"Masifnya korban karena mandulnya pengawasan dari Kemenag. Karena kalau ia adakan pengawasan seharusnya korban tidak sebanyak ini," kata Ketua Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat 22 September 2017.

YLKI menerima 22 ribu aduan terkait penyelenggaraan umrah. Biro yang paling banyak mendapat aduan yakni First Travel dengan 17 ribu laporan. Disusul Kafillah Rindu Ka'bah dengan 3.065 aduan dan 1.800 laporan ke Hanin Tour.

Seharusnya kontrol Kemenag tak berhenti di pemberian izin, namun berlanjut hingga evaluasi dan pengawasan setelah izin diberikan.

(Baca juga: Polri Minta Bisnis Biro Perjalanan Haji dan Umrah Segera Diatur)

YLKI sudah mengonfirmasi ke Kemenag terkait lemahnya pengawasan. Hasilnya, pihak internal Kemenag akui proses pengawasan tak optimal. Alasannya beragam, mulai minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan lain hal. Padahal sebagai pihak yang mengeluarkan izin pada 723 biro umrah, tidak bisa seperti itu.

"Ini kan tidak ada alasan, karena kalau mengeluarkan izin sebanyak itu pengawasan harus kuat. Karena jangan sampai izin jor-joran tapi pengawasan mandul dan tidak bisa mengawasi biro umrah yang menipu konsumen," sebut Tulus.

Ke depan, Kemenag harus aktif memantau ratusan penyelenggara umrah. Misalnya melakukan pembaruan aktif tidaknya biro perjalanan ke tanah suci. Istilahnya, bertanggung jawab secara perdata.

"Tolong Kemenag meng-update lagi apa aktif atau tidak. Atau terkait aduan dari calon jemaah, masih ada atau tidak. Harus ada sanksi minimal pencabutan izin agar tak terjadi korban lagi," pungkas Tulus.

(Baca juga: Kantor PT Kafilah Rindu Ka'bah Pernah Digerebek Polisi)

Untuk diketahui, fenomena aduan calon jemaah umrah serupa gunung es. Setelah First Travel, masih banyak permasalahan serupa yang muncul. 

Contohnya seperti yang dialami 3 ribu lebih calon jemaah biro umrah Kafillah Rindu Kabah. Jemaah dijanjikan berangkat dengan menyetor uang mulai dari Rp11 juta hingga Rp22 juta sejak akhir 2015. Namun hingga kini, tak satu pun dari 3.065 jemaah yang diberangkatkan. Izin biro umrah itu sendiri telah dicabut Kemenag.




(HUS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG IBADAH UMRAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-10-2017