DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 41.348.051.099 (17 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Walet Hitam Melumpuhkan Dr Azhari (10)

Wandi Yusuf - 09 November 2017 15:45 wib
Suasana latihan Densus 88 AT. Foto: Antara/Moch Asim
Suasana latihan Densus 88 AT. Foto: Antara/Moch Asim

Metrotvnews.com, Jakarta: Aransemen bom yang diciptakan Dr Azhari mulai mengalun pada 12 Oktober 2002. Legian, Bali, berguncang. Sebanyak 202 orang meninggal. Sekitar 300 orang terluka dan sebagian besarnya cacat permanen. Hingga 15 tahun berselang, luka akibat bom itu masih terngiang, terutama bagi keluarga korban.

Tulisan ini hendak mengenang kembali peristiwa mengerikan yang kemudian dikenal dengan peristiwa Bom Bali I. Sudut pandang tulisan ini adalah sosok Dr Azhari. Bagaimana kiprahnya berada di balik setiap bom yang meluluhlantakkan sebagian tempat strategis di Indonesia. Mulai dari pertama kali diminta meracik bom, menebar teror, hingga akhirnya ditangkap pukul 15.45 WIB pada 9 November 2005 di Batu, Malang, Jawa Timur.

Bukan untuk membuka trauma. Setidaknya untuk mengingat kembali betapa sosok ‘gila’ macam Azhari sudah merusak harmoni di negeri ini.

Tulisan merujuk pada buku yang dirajut Komisaris Jenderal Arif Wachjunadi berjudul Misi Walet Hitam 09.11.05 – 15.45: Menguak Misteri Teroris Dr Azhari yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Arif saat ini menjabat Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Ia melakukan riset selama dua tahun dengan melakukan perjalanan ke semua lokasi terkait dengan Bom Bali I. Puluhan saksi, baik pelaku maupun pemburu teroris, dia wawancarai. Termasuk petugas lapangan yang menjadi ujung tombak penangkapan Dr Azhari.

Memburu Dr Azhari

Tiga tahun terus diburu, sosok Dr Azhari akhirnya diketahui. Kegemarannya mencari tempat bersuhu dingin menjadi jalan masuk kepolisian menemukan tempat persembunyiannya.

Tim pemburu teroris yang dipimpin Gories Mere juga punya pintu masuk melalui Reno alias Tedi alias Aji alias Iwan alias Ario Sudarso alias Dayat alias Suparjo Dwi Anggoro alias Mistam Husamuddin. Reno diyakini orang kepercayaan Azhari dan Noordin M Top selama menebar teror di Indonesia.

Baca: Sidik Jari Dr Azhari di Bom Bali (1)

Perburuan Azhari menemui titik terang setelah tim menemukan nomor ponsel Reno. Pelacakan nomor ponsel ini berlangsung tiga tahun. Polisi mengistilahkan nomor ponsel yang dipakai Reno sebagai ‘nomor cantik dan menarik hati’.

Awalnya polisi susah menerka komunikasi mereka karena para teroris menggunakan bahasa sandi. Dan Reno selalu berkomunikasi di luar area akomodasi.

Beruntung, Petrus Golose (saat ini menjabat Kapolda Bali), penginterogasi teroris, punya informasi penting dari Muhammad Rais. Rais adalah teman dekat Azhari. Keduanya alumnus Pondok Pesantren Lukman Nulhakim, Johor Baru, Malaysia. Rais juga sempat membantu Azhari meracik bom di Indonesia

“Pak Petrus, kalau mau cari Dr Azhari, cari di tempat yang dingin,” kata Rais.

Info itu sangat berharga. Apalagi komunikasi Reno kerap terdeteksi di daerah Malang. Lokasi salah satu ponsel juga ditemukan statis di sebuah rumah kontrakan di Jalan Flamboyan A1 Nomor 7 Perumahan Flamboyan, Kelurahan Songgokerto, Batu, Malang, Jawa Timur. Perumahan itu berada di dataran tinggi.

Baca: Menjadi Misteri setelah Ledakan Bom Bali (3)

Setelah ditelusuri, rumah itu ditinggali Cholily dan Arman yang mengaku sebagai mahasiswa tingkat akhir. Keduanya ternyata suruhan Azhari dan Noordin M. Top untuk bersosialisasi dengan tetangga. Ini dilakukan agar warga tak menyangka ada yang tinggal selain mereka berdua. Azhari diplot untuk tak keluar rumah dan berkonsentrasi meracik bom.

Petugas kemudian menyewa tiga villa di sana untuk mengawasi rumah ini.

Sutoyo, warga di sekitar rumah kontrakan,  akrab dengan Arman dan Cholily. Sutoyo mengira hanya mereka berdua yang tinggal di rumah kontrakan. Tapi, Sutoyo juga kerap melihat ada tamu berboncengan datang menggunakan sepeda motor. Namun, pengemudi maupun yang dibonceng tak pernah membuka helm.

“Saya tak tahu kapan Dr Azhari datang. Saya juga berpikir tak ada orang lain selain dua mahasiswa itu,” kata Sutoyo.

Yakin target di depan mata, Kepala Densus 88 AT Brigjen Bekto Suprapto memutuskan memanggil Crisis Response Team (CRT) Walet Hitam dari Mako Teratai, Brimob. Mereka disiapkan sebagai tim pemukul.

Sehari setelah Idul Fitri, 5 november 2005, Bekto menghubungi Komandan Satuan Pasukan Terlatih Polri, Kombes Arie Sulistyo. Bekto meminta izin untuk menggeser pasukan Walet Hitam ke Batu.

Hari itu juga anggota tim Walet Hitam yang baru terbentuk pada 2003 diberangkatkan. Tim ini beranggotakan 12 prajurit terlatih. Mereka terdiri dari kepala tim, satu wakil kepala tim, empat penetrator, dua penembak jitu, dua asisten penembak jitu, dan dua pendobrak. Tim ini ditunjang empat penjinak bom. Total ada 16 prajurit.

Masih dalam suasana Lebaran, komandan CRT Walet Hitam Iptu Bram mengabarkan seluruh anak buahnya merapat ke Mako Teratai. “Merapat ke Mako Teratai segera. Sekarang juga. Ada tugas penting untuk kita,” kata dia.

Tim CRT hanya memiliki waktu dua jam untuk mempelajari lokasi di Batu. Karena kerahasiaan operasi, selama di Malang anggota tim tak diperkenankan keluar.

Misi ini merupakan misi penindakan kejahatan terorisme pertama kali yang menggunakan pasukan khusus yang terstruktur.

Detik-detik penangkapan

Rabu siang 11 November 2005, penyergapan dilakukan setelah yakin Dr Azhari ada di dalam kontrakan. Keyakinan ini muncul karena polisi berhasil menangkap Cholily saat akan mengirim bom ke Noordin M Top. Dari keterangan Cholily, kontrakan dihuni Arman dan Dr Azhari.

Penyergapan dimulai. Awalnya dilakukan terencana, tapi karena situasi kritis, tim Walet Hitam terpaksa melakukan serangan darurat. Anggota tim menyebar ke sejumlah titik dan mengepung kontrakan.

Di tengah penyergapan, warga banyak menonton, termasuk wartawan. Kerja  tim Walet Hitam sempat terganggu, namun mereka tetap mencoba fokus.

Baca: Densus 88 Antiteror Lahir (6)

Dua sniper mengintai di atap. Arman sempat melempar bom ke arah tim surveillance, tapi keburu ditembak sniper saat masih berada di udara. Arman kemudian melempar bom lain, tapi semua bisa dilumpuhkan sniper.

“Saya mau keluar, jangan tembak,” kata Azhari.

Iptu Bram melihat tangan Azhari membuka pintu rumah perlahan. “Baik, kamu keluar kami tidak akan melakukan penembakan,” timpal Bram.

Colt M4A1 Carbine. Foto: Arundel Militeria

Bram curiga karena bentuk dada Azhari menggelembung pertanda menggunakan rompi bom.

“Berhenti di situ, lepaskan baju kamu dan lekas angkat tangan,” kata bram. Azhari justru melotot dan menantang.

“Hai polis, kalau berani masuk sini!” kata Azhari yang langsung lari lagi ke dalam sambil mengacungkan senjata ke Brigadir Fran, salah satu anggota tim yang bertindak sebagai sniper.

Momentum itu tak disia-siakan. Bram memprediksi Azhari masih ada di balik pintu. Ia kemudian memerintahkan Fran menembak. Fran melepaskan dua tembakan sekaligus atau double tap mengarah tepat ke pintu.

Fran menggunakan senjata Colt M4A1 Carbine buatan Amerika dengan peluru kaliber 5,56 milimeter.
Peluru menembus dada Azhari. Dan gembong teroris itu jatuh tersungkur. Dia tewas pukul 15.45 WIB, Rabu 9 November 2005. Tepat 12 tahun lalu. (***)




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG JEJAK TEROR DR AZHARI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 19-10-2018