TNI Tunggu Payung Hukum Bebaskan Sandera

Media Indonesia - 15 November 2017 08:51 wib
KSAD Jenderal Mulyono menyampaikan pidato saat peresmian prasasti tulisan tangan Presiden Soekarno di komplek Akademi Militer Magelang, Jateng. Foto: Antara/Anis Efizudin.
KSAD Jenderal Mulyono menyampaikan pidato saat peresmian prasasti tulisan tangan Presiden Soekarno di komplek Akademi Militer Magelang, Jateng. Foto: Antara/Anis Efizudin.

Bandung: Kepada Staf TNI-AD Jenderal TNI Mulyono meminta pemerintah bersama DPR segera mengambil sikap untuk mengakhiri penyanderaan terhadap 1.300 warga oleh kelompok kriminal bersenjata di Kampung Banti dan Kimberly, Mimika, Papua. Pasalnya, TNI memerlukan payung hukum untuk diturunkan.

"Mereka merupakan kelompok separatis, berdasarkan undang-undang harus ditumpas dan diberantas," kata Mulyono di Pusdikif Pussenif Kodiklat AD, Cipatat, Bandung Barat, Selasa, 14 November 2017.

Mulyono menilai pelaku banyak membuat pernyataan provokasi, bahkan menyatakan siap berperang dengan Indonesia. Hal ini, kata dia, adalah ancaman serius. "Kalau kita tidak dipayungi hukum yang jelas, TNI tidak bisa berbuat apa-apa di sana, apalagi kondisinya bukan dengan status darurat militer.''

Dalam kasus penyanderaan sejak 9 November ini, ujar Mulyono, TNI hanya mem-back up kepolisian. Bila undang-undang mengamanatkan TNI turun langsung, pihaknya sudah siap dengan pasukan untuk membantu mengupayakan Papua yang lebih kondusif.

"Kita ingin mengangkat derajat masyarakat di sana," jelas dia.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga menilai penyanderaan adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Ia meminta aparat segera membebaskan para sandera dengan mengutamakan cara-cara persuasif.

"Namun, kita juga harus menunjukkan kedaulatan dan pantang didikte kelompok separatis. Masyarakat bertanya-tanya kenapa kejadian ini seperti dibiarkan dan aparat tak bertindak tegas. Masyarakat juga banyak yang menanyakan, mengapa mereka hanya disebut kelompok kriminal bersenjata, bukan kelompok teroris atau separatis," tukas Fadli.

Baca: ?Menhan Berharap Pembebasan Warga Papua Persuasif

Kemarin, kelompok kriminal bersenjata kembali berulah dengan menembaki mobil patroli pengawalan yang melintas di mile 69 Tembagapura, Mimika. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, insiden itu terjadi sekitar pukul 08.30 WIT dan mengakibatkan seorang karyawan terluka tembak di paha.

Soal kondisi sandera, istri salah satu korban, Zubaidah, mengaku beberapa hari lalu sempat berkomunikasi dengan sang suami yang kini berada di Kampung Banti. "Mereka mengaku hanya makan nasi putih tanpa lauk karena hanya perempuan yang boleh keluar kampung. Uang mereka juga dirampas dan sekarang kami tak bisa komunikasi lagi,'' tutur warga Demak, Jateng, itu.




(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KELOMPOK BERSENJATA DI PAPUA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 18-11-2017