Riwayat Sang Maestro (9)

Wandi Yusuf - 09 November 2017 12:31 wib
Seorang angota polisi duduk di samping banner bergambar buronan terroris Dr Azhari dan Noordin M Top di Jakarta, Rabu (10/11/2005). Foto: MI/Usman Iskandar
Seorang angota polisi duduk di samping banner bergambar buronan terroris Dr Azhari dan Noordin M Top di Jakarta, Rabu (10/11/2005). Foto: MI/Usman Iskandar

Metrotvnews.com, Jakarta: Aransemen bom yang diciptakan Dr Azhari mulai mengalun pada 12 Oktober 2002. Legian, Bali, berguncang. Sebanyak 202 orang meninggal. Sekitar 300 orang terluka dan sebagian besarnya cacat permanen. Hingga 15 tahun berselang, luka akibat bom itu masih terngiang, terutama bagi keluarga korban.

Tulisan ini hendak mengenang kembali peristiwa mengerikan yang kemudian dikenal dengan peristiwa Bom Bali I. Sudut pandang tulisan ini adalah sosok Dr Azhari. Bagaimana kiprahnya berada di balik setiap bom yang meluluhlantakkan sebagian tempat strategis di Indonesia. Mulai dari pertama kali diminta meracik bom, menebar teror, hingga akhirnya ditangkap pukul 15.45 WIB pada 9 November 2005 di Batu, Malang, Jawa Timur.

Bukan untuk membuka trauma. Setidaknya untuk mengingat kembali betapa sosok ‘gila’ macam Azhari sudah merusak harmoni di negeri ini.

Tulisan merujuk pada buku yang dirajut Komisaris Jenderal Arif Wachjunadi berjudul Misi Walet Hitam 09.11.05 – 15.45: Menguak Misteri Teroris Dr Azhari yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Arif saat ini menjabat Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Ia melakukan riset selama dua tahun dengan melakukan perjalanan ke semua lokasi terkait dengan Bom Bali I. Puluhan saksi, baik pelaku maupun pemburu teroris, dia wawancarai. Termasuk petugas lapangan yang menjadi ujung tombak penangkapan Dr Azhari.

Berotak encer

Pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden bangga menemukan Dr. Azhari. Dia yakin didikannya ini bakal menjadi mesin peracik bom terbaik yang pernah dimiliki kelompok militan.

Berlatih selama enam bulan di Kamp Militer milik Osama di Kandahar, Afganistan, Azhari menjadi salah satu murid terbaik. Pelahap buku-buku soal militer ini ditunjang dengan antusiasmenya melakukan eksperimen.
Azhari Husin lahir di Melaka, Malaysia, pada 14 September 1957. Sulung dari 10 bersaudara ini berasal dari keluarga mapan dan terdidik.

Baca: Sidik Jari Dr Azhari di Bom Bali (1)

Sejak SMP dia sudah dikenal sebagai anak berotak encer. Lulus SMP dia meraih beasiswa Colombo Plan dan melanjutkan SMA di Norwood High School, Australia. Azhari sempat kuliah di Fakultas Teknik Universitas Adelaide selama dua tahun. Dia harus memutus masa kuliahnya dan kembali ke Malaysia pada 1979 karena adanya gejolak Islam di Timur Tengah.

Azhari melanjutkan kuliah di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) Skudai, Johor, dan berhasil menjadi sarjana pertanahan dan properti. Selanjutnya, dia meneruskan studi S2 dan S3 di universitas yang sama. Azhari pun diangkat menjadi dosen di UTM.

Cara dia mengajar disukai mahasiswa karena metodenya tak konvensional Dia dikenal sebagai pengajar yang tak textbook.

Pada 1985 Azhari menikahi Nuraini Jusoh, rekannya sesama dosen. Lima tahun menikah, pasangan ini dikarunia dua anak, yakni Zaid Abil dan Aisyah.

Selama menjadi dosen, Azhari doyan bersepeda motor. Namun, dia merasa kesehariannya tak memberi banyak manfaat. Apalagi Timur Tengah saat itu tengah bergejolak.

“Perang di Afganistan sedang berkobar. Ramai pemuda Arab dan pemuda dari Indonesia serta Malaysia ke sana, tapi aku tenggelam dalam motorsikal (hobinya bersepeda motor),” begitu dia menulis di catatan tangannya. Azhari merasa tak berguna.

Baca: Para Pelaku di Telunjuk Imam Samudera (7)

Saat keyakinannya terguncang, Azhari mengenal sosok Dr Abdullah Azzam, tokoh penggerak jihad. Abdullah selalu mendengungkan bahwa mati mulia adalah mati sebagai mujahid. Dari Abdullah pula pada 1993 Azhari dikenalkan dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI).

Selama di JI Azhari berkenalan dengan Abu Bakar Baasyir dan Mukhlas. Ia juga dekat dengan Imam Samudera dan Noordin M Top.

Kerasan di Indonesia

Pada April 1999 Azhari pergi ke Mindanao, Filipina Selatan, untuk mengikuti pelatihan di kamp militer Moro Islamic Liberation Front (MILF). Ia belajar taktik perang, belajar menggunakan senjata api, dan mengasah teknik kamuflase.

Akhir 1999 hingga awal 2000, Azhari belajar merakit bom di kamp militer kandahar, Afganistan.

Sejak saat itu Azhari mulai diburu. Dia lari ke Bangkok, Thailand. Di sana dia bertemu Pemimpin Al Qaeda Asia Tenggara, Hambali. Di Bangkok, Azhari mendapat banyak pelajaran soal bagaimana bisa berkelit dari kejaran aparat.

Sebagai pembelajar yang tekun, Azhari menjelma menjadi penyamar andal. Terbukti saat pulang ke Malaysia tak ada teman dekat yang mengenali sosoknya. Bahkan, penjaga toko yang kerap menyapa saat belanja, tak mengacuhkan kedatangannya.

Pada 2001 Azhari ke Indonesia bersama Noordin. Mereka tinggal di rumah Muhammad Rais, adik ipar Noordin di Dusun Pendekar Bahan, Kepenghuluan Bangko Kiri, Kecamatan Bangkupusako, Kabupaten Rokan Ilir, Riau. Azhari kerasan tinggal di Indonesia. Dia kemudian banyak menebar bom.

Baca: Cerita Saksi Hidup Korban Bom Kedubes Australia

Bom pertama karyanya sukses mengguncang Legian, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom ini bahkan menjadi pemberitaan internasional karena korbannya sebagian besar wisatawan asing. Teror yang dilakukan Azhari berlanjut hingga 2005, sebulan sebelum polisi menangkapnya.

Selama menebar teror, Azhari berada dalam perburuan polisi. Namun, geraknya licin dan kepolisian tak pernah bisa menangkapnya.

Sebagai bukti, Azhari empat kali lolos dari tangan polisi, tiga kali lolos dari anggota kepolisian lalu lintas, dan sekali lolos dari anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror yang saat itu baru terbentuk.

ia pun bisa meloloskan diri saat sedang membawa bom untuk diledakkan di Kedubes Australia. Polisi sempat menilang mobilnya. Namun, dia dilepas karena polisi tak mengenali sosoknya. Bom pun meledak di depan Kedubes Australia, di Kuningan, Jakarta Selatan, pada 9 September 2004. Bom menewaskan 9 orang dan melukai 104 orang. (Bersambung)




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG JEJAK TEROR DR AZHARI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 24-04-2018