Kronologi Penghakiman Massa terhadap Pasangan yang Dituduh Mesum

Deny Irwanto - 14 November 2017 17:11 wib
Ilustrasi: Kekerasan. Foto: MTVN/Rakhmat Riyandi.
Ilustrasi: Kekerasan. Foto: MTVN/Rakhmat Riyandi.

Jakarta: R dan MA menjadi bulan-bulanan warga karena dituduh berbuat mesum. Peristiwa itu bermula saat MA meminta dibawakan makanan oleh R pada Sabtu, 11 November 2017.

MA tinggal seorang diri di kontrakannya di Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang. R datang membawakan makanan ke kontrakan itu sekitar pukul 22.00 WIB. Keduanya pun makan malam bersama.

Namun, makanan belum selesai disantap, kontrakan MA digedor-gedor warga. Ketua RT setempat mendatangi keduanya sambil membawa beberapa warga. Mereka menuding R dan MA berbuat mesum. 

"Keduanya dipaksa untuk mengaku berbuat mesum dan sempat tiga orang inisial G, N, dan A memaksa laki-laki untuk mengaku dan sempat mencekik," kata Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif saat memberi keterangan melalui akun Instagramnya, Selasa, 14 November 2017.

Usai dipaksa mengaku di dalam kontrakannya, kata Sabilul, sejumlah warga langsung mengarak MA dan R. Pasangan itu dibawa menuju sebuah rumah toko (ruko) yang berjarak sekitar 200 meter dari kontrakan MA.

Menurut dia, selama perjalanan itu, keduanya mendapati kekerasan. Bahkan pakaian mereka dilucuti warga. Padahal, keduanya seharusnya dibawa ke ketua RW. 

"Yang paling menyedihkan dari salah satu ini (pelaku) membuka baju perempuan, untuk memaksa. Yang laki-laki melindungi dan juga sudah tidak menggunakan baju sama sekali yang akhirnya mengenakan baju berwarna biru (kepada MA)," jelas Sabilul.

Baca: Pengamat: Community Policing Bukan Alat untuk Main Hakim Sendiri

Setelah menjadi bulan-bulanan warga di kawasan ruko, pasangan itu akhirnya dibawa ke rumah ketua RW. Setelah menjalani interogasi di rumah RW, menurut Sabilul, keduanya dikembalikan ke kontrakannya.

Sabilul menyebut, tindakan main hakim sendiri oleh warga sudah melampaui batas. Menurut dia, warga telah melakukan tindak pidana kerena memukul pasangan kekasih tersebut.

"Korban mengatakan tindakan pidana itu memang ada. Kita lakukan visum dan benar berdasarkan hasil tersebut ada luka bengkak dan lebam-lebam," beber Sabilul.

Baca: Enam `Penghakim` Pasangan Diduga Mesum Jadi Tersangka

Polisi pun menetapkan enam orang tersangka dalam insiden tersebut. Mereka adalah G, S, N, T, A, dan I. T yang menjabat sebagai ketua RT setempat juga kedapatan ikut menghakimi R dan MA.

"Perannya masing-masing, yang pertama adalah T ini yang pertama mendobrak pintu ini dan langsung pertama kali dia melakukan penggerebekan dan yang sempat memobilisasi massa," pungkas Sabilul.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan juncto Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak mengeyangkan. Mereka terancam hukuman di atas lima tahun penjara.


(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEKERASAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 21-11-2017