Pameran Songket Minang Pertama di Swiss

Sunnaholomi Halakrispen - 17 April 2018 11:42 wib
Penenun kain songket di Pandai Sikek, Padang Panjang. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Penenun kain songket di Pandai Sikek, Padang Panjang. Foto: MI/Rommy Pujianto.

London: Untuk pertama kalinya kain songket dipamerkan di Lyssach, Swiss. Pameran tersebut digelar pasangan suami istri asal Swiss, Bernhard dan Erika Bart, serta Trini Tambu, wanita minang asal Koto Gadang, Sumatera Barat.

Seperti dilansir dari Antara, Selasa, 17 April 2018, puluhan Songket asal Minangkabau itu dipamerkan akhir pekan lalu. Pameran ini bertajuk "Gold and Silk: the Revitalization of the Songket Weaving in West Sumatra". 

Dubes Indonesia untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, Muliaman Dharmansyah Hadad, mengukuhkan penghargaan kepada Bernhard dan Erika Bart. Ini bentuk apresiasi atas upaya keduanya yang melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia, khususnya songket Minangkabau.

Muliaman menyampaikan kain songket tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Kerajinan ini juga menjadi jembatan budaya bagi Indonesia dan Swiss. 

Songket karya Bernhard Bart berhasil mendapatkan penghargaan UNESCO Award of Excellence for Handicrafts se-Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pada 2016, Bernhard juga mengadakan pameran songket bertajuk "Queen of Textile: One Root, One Heritage" yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia.  

Bernhard Bart adalah arsitek Swiss yang telah mendedikasikan lebih dari dua puluh tahun hidupnya dengan merestorasi motif kain songket lama asal Sumatera Barat. Pria berusia 71 itu jatuh cinta terhadap kain songket sejak 1996 ketika pertama kali mengunjungi Sumatera Barat. Saat itu, ia juga mempelajari bahasa Indonesia.

Baca: Ketua DPR: Budaya tak Identik Pertunjukan Seni

Bernhard acapkali melanglang buana. Dia menyukai kerajinan tangan dan telah jatuh hati pada tenun songket Sumatera Barat, khususnya songket asal Koto Gadang.

Bagi Bernhard, songket tidak hanya seulas kain. Songket adalah bagian dari sejarah dan ritual adat masyarakat Minangkabau. Sementara itu, Erika Bart menganggap penelitian terkait songket adalah hal yang menyenangkan.

"Karena songket dengan motif paling sederhana pun memiliki makna filosofis dan budaya yang sangat menarik untuk dipelajari," tutur Erika.



(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEBUDAYAAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 19-04-2018