Buku yang Mengubah Perjalanan Hidup Andy F Noya

Anindya Legia Putri - 15 Mei 2017 07:00 wib
Andy F Noya (Foto:MI/Arya Manggala)
Andy F Noya (Foto:MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Andy F Noya pernah didaulat sebagai Duta Baca Indonesia periode 2011-2015. Penunjukan Andy sebagai Duta Baca sangat tepat. Sebab, sejak kecil presenter ini gemar membaca buku dan menjadikan buku sebagai penuntun kehidupan.

Andy terlahir dari keluarga miskin, dengan keadaan orang tua yang bercerai, dan memiliki dua orang kakak perempuan. Sebagai anak yang suka membaca sejak kecil, perlu perjuangan besar dari sang ibu agar Andy bisa tetap membaca.

"Dalam kehidupan pribadi saya, buku memiliki kekuatan yang sangat besar. Banyak pertanyaan, di acara saya (program Kick Andy) mengapa selalu membagikan buku. Saya jawab, bahwa ini adalah 'dendam' saya. Saya dulu lahir dari keluarga dengan perekonomian kurang, sehingga tidak mampu membeli buku," tutur Andy.

Ia lalu berkisah mengenai pengorbanan sang ibu. Sempat Andy terdiam, menahan haru, meski akhirnya tak kuasa menahan air mata. "Yang luar biasa itu ibu saya. Betapa ibu saya yang seorang tukang jahit banyak berkorban. Nasi dengan garam pun kita makan. Meskipun demikian, ibu selalu menyisihkan uang untuk sekadar membelikan saya koran Suara Karya. Saat itu, saya kelas 4 SD. Ibu berkata, saya harus terus membaca. Bahkan, untuk membayar koran pun akhirnya harus menunggak," ucap Andy.

"Kalau saya ulang tahun, buku selalu menjadi hadiah dari ibu. Salah satu buku yang dibelikan adalah buku prakarya. Saya ingat, karena buku tersebut nilai prakarya saya paling tinggi dibandingkan yang lain. Guru saya pun selalu bilang bahwa saya punya bakat dan talenta dalam menulis. Karena saat pelajaran mengarang, saya mendapat nilai tinggi," lanjutnya.

Pihak sekolah juga kerap kali membantu Andy memenuhi rasa hausnya akan membaca. Ada seorang guru yang mengetahui kondisi perekonomian keluarga Andy, lalu ia memberikan Andy majalah 'Si Kuncung.' Pada saat itu, majalah 'Si Kuncung' merupakan bacaan yang digemari anak-anak seusia Andy.

"Dulu saya dihina karena miskin. Karena buku, saya dielu-elukan. Betapa hebat buku bisa mengubah pandangan orang terhadap saya," ujar pria kelahiran 6 November 1960.

Andy bercerita bahwa ia juga sempat ikut ayahnya di Papua, yang mencari nafkah dengan memperbaiki mesin ketik. Namun, nasibnya tetap tak berubah. Ia tetap kesulitan mendapatkan buku karena harganya mahal. Ketika ayah meninggal, Andy diajak kakak perempuannya ke Jakarta. Hidup di kota besar, Andy menyadari pengetahuannya sangat tertinggal dibandingkan anak-anak lainnya. Salah satu cara Andy mengejar ketertinggalan tersebut dengan membaca.

Saat kuliah, Andy juga mengaku tak sanggup membeli buku wajib. Ia mengakali dengan berkunjung ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. "Saat kuliah, karena tak mampu membeli buku, saya menyalin buku di perpustakaan Soemantri. Usai menyalin buku wajib, saya juga tertarik dengan buku lainnya. Dari situ, saya menilai bahwa dunia itu luas sekali dan hebat."

Beranjak ke kehidupan pernikahan, Andy mengatakan bahwa ia memiliki satu komitmen yang tidak boleh dilarang oleh istrinya, yakni membeli buku. Tapi karena saat itu penghasilan Andy hanya Rp275 ribu dan sang istri minta Andy membatasi pengeluaran. "Saya bilang kepada istri, ia boleh melarang apa saja, asal jangan melarang membeli buku. Karena belinya dibatasi, jadi saya suka membeli buku murah di Kwitang," kata Andy.

Saat ini, ribuan buku menjadi koleksi Andy dan keluarganya. Ia memiliki sebuah perpustakaan sendiri yang ia bangun untuk mewariskan kegemaran membaca kepada anak-anak nya. "Anak-anak saya suka sekali membaca buku. Satu minggu selesai baca satu buku. Mereka suka membaca buku sastra."

Mengingat kehidupannya dulu, Andy menyayangkan sulitnya anak-anak di pelosok Indonesia untuk mendapatkan buku bacaan.  Distribusi buku yang belum merata hingga ke pelosok daerah dan mahalnya harga buku, merupakan beberapa permasalahan yang membuat tak banyak anak-anak Indonesia gemar membaca buku. Terbatasnya akses mendapatkan buku bacaan ini juga mempersulit mereka dalam menimba ilmu pengetahuan dan menempa kecerdasan.

Kini, ada gerakan #BukuUntukIndonesia yang memfasilitasi ketersediaan buku untuk anak-anak Indonesia, terutama yang tinggal di pelosok. Jika Anda peduli mengubah keadaan anak-anak Indonesia yang kesulitan mendapatkan buku, Anda dapat melakukan langkah kebaikan dengan terlibat langsung melalui gerakan #BukuUntukIndonesia.

Langkah kebaikan Anda bisa dimulai dengan mengunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com. Klik tombol "berbagi" di website Buku Untuk Indonesia. Kemudian, Anda akan diarahkan ke page Blibli.com untuk memilih paket berbagi yang diinginkan.

Dengan berbagi minimal Rp100 ribu Anda sudah berpartisipasi untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Nantinya, dana yang terkumpul melalui gerakan #BukuUntukIndonesia akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia.

"Dengan adanya gerakan #BukuUntukIndonesia, saya merasa optimistis anak-anak akan bisa mendapatkan buku bacaan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan mereka. Saya pribadi, senang dan semoga semakin banyak perusahaan-perusahaan yang terdorong untuk membantu gerakan buku semacam ini, agar anak-anak kita di daerah tidak tertinggal dengan saudara-saudara mereka di kota-kota besar. Terutama agar mereka bisa berkompetisi secara internasional," ucap Andy.


(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BUKUUNTUKINDONESIA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
MORE
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 23-09-2017