Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

Anak yang Orangtua Terlibat Terorisme Harus Diawasi Negara

Marcheilla Ariesta - 12 Juli 2018 16:09 wib
Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Hamidin. (Foto: Marcheilla Ariesta).
Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Hamidin. (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Anak-anak yang tinggal bersama orangtua teroris harus diawasi negara. Karenanya, sebagian dari mereka, yang orangtuanya ditangkap atau tewas, kini berada dalam perlindungan pemerintah.
 
Meski demikian, tak hanya yang orangtuanya teroris, anak-anak yang menyebarkan berita hoaks, juga akan diawasi negara.
 
"Anak-anak yang terlibat terorisme itu kita lihat umurnya. Mereka bagian dari korban, mereka orang-orang yang harus kita ambil alih, harus kita bina secara khusus," ucap Deputi III Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Hamidin di Jakarta, Kamis 12 Juli 2018.
 
Ditemui di Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2018, Hamidin mengatakan lingkungan keluarga paling efektif untuk direkrut teroris.
 
"Kita lupa bahwa lingkungan keluarga paling efektif untuk diajak, seperti kasus Surabaya. Jadi, BNPT terlibat untuk pencegahan berikutnya," kata dia.
 
Anak-anak teroris nantinya akan dimasukkan ke sebuah badan pembinaan milik negara. Jika sudah masuk badan tersebut, program pencegahan radikalisasi untuk anak-anak tersebut dilakukan.
 
Usai menjalani program pencegahan tersebut, anak-anak ini akan dinilai. Jika dirasa masih belum berhasil, mereka akan tetap mendapat pelatihan.
 
"Anak-anak itu bisa kita kembalikan ke keluarga, namun kita lihat dulu anaknya. Ada yang kita kembalikan ke keluarga, tapi tetap kita berikan pendampingan," jelas Hamidin.
 
Hamidin memberikan contoh anak teroris asal Indonesia yang dipulangkan dari Irak, namanya Munsana. Menurut dia, Munsana mengaku senang bermain dengan senjata.
 
Bocah 12 tahun itu adalah anak dari mantan teroris yang berada di Irak. Ayahnya sempat ditahan karena kasus bom Cimanggis, dan bebas. Lantas dia membawa Munsana, dan istrinya ke Irak.
 
"Setibanya di Irak, ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan lelaki Tunisia. Munsana kami temukan saat melakukan investigasi di Irak. Dia mengatakan senang main senjata karena asyik," tukas Hamidin.
 
Negara, ucap Hamidin, harus terlibat dalam proses deradikalisasi kepada anak-anak teroris. Meski demikian, pemerintah harus ingat bahwa komponen utamanya adalah keluarga.
 
"Keluarga harus dilibatkan dalam proses ini. Kalau kita ambil alih serta merta, kita akan mendapat penolakan. Dia tetap butuh komunitasnya," pungkas Hamidin.


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TERORISME
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-07-2018