BNP2TKI Endus Kejanggalan Kasus Jasad Bayi di Pesawat

Ilham wibowo - 11 Januari 2018 10:38 wib
Barang bukti septu dan celana bahan milik terduga pembuang bayi di tempat sampah toilet pesawat Ettihad Airways, Minggu 7 Januari 2018 di Mapolresta Tangerang. (Medcom.id/Farhan Dwitama)
Barang bukti septu dan celana bahan milik terduga pembuang bayi di tempat sampah toilet pesawat Ettihad Airways, Minggu 7 Januari 2018 di Mapolresta Tangerang. (Medcom.id/Farhan Dwitama)

Jakarta: Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) masih menantikan kejelasan ihwal kasus penemuan jasad bayi di pesawat Etihad Airways. Sejumlah kejanggalan ditemukan.  

Sekretaris Utama (Sestama) BNP2TKI Hermono mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian maupun Kementerian Luar Negari guna menelisik temuan kejanggalan itu. Pemeriksaan terhadap perempuan berinisial H itu pun saat ini masih terkendala kondisi kesehatan. 

"Kita masih menunggu laporan dari kepolisian, si ibunya masih lemah, jadi belum bisa dimintai keterangan," kata Hermono kepada Medcom.id, Rabu, 10 Januari 2018. 

Baca: Ibu Jasad Bayi di Pesawat Etihad Menampik Lakukan Aborsi

Hermono menuturkan, pihaknya juga telah menelusuri ihwal H yang disebut hendak menuju Uni Emirat Arab, untuk menjadi tenaga kerja Indonesia. Hasilnya, perempuan asal Cianjur Jawa Barat, itu berangkat tak sesuai prosedur. 

"Jadi tidak terdata di sistem Indonesia. Kita juga koordinasi dengan KJRI di Abu Dhabi dan juga tidak terdata. Jadi, sementara belum ada kejelasan," paparnya. 

BNP2TKI juga menelusuri data yang disampaikan keluarga. Hermono menuturkan, pihaknya perlu mencocokkan data lebil mendalam lantaran terjadi perbedaan pada dokumen imigrasi. 

"Termasuk masalah usia maupun nama, dan ini sedang verifikasi. Saya sudah minta cross check data dengan Polres Bandara Soekarnohatta karena ada kejanggalan," ujarnya. 

Baca: WNI Pembuang Jasad Bayi di Etihad TKW Ilegal
 
Hermono belum bisa menyimpulkan perempuan tersebut merupakan TKI illegal. Temuan sementara, kata dia, baru sebatas perbedaan data pada dokumen Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS). Sistem BNP2TKI pun tak dapat menampilkan dokumen yang dibawa perempuan tersebut.

"Belum clear, hasil pemeriksaan polisi. hasil pemeriksaan ibu ini seperti apa, apakah dia sebagai korban atau pelaku," tuturnya. 

Hermono melanjutkan, pihaknya perlu memastikan apakah perempuan tersebut sengaja aborsi atau memang tengah hamil tua. Pihak maskapai pun perlu ditelusuri agar penyelidikan bisa menyeluruh sehingga proses pidana maupun perlindungan bisa diterapkan.

"Kalau hamil sudah tua kemudian terbang jarak jauh lalu melahirkan di pesawat, kalau memang itu kita sudah minta pihak airlines juga diperiksa, kenapa memberangkatkan orang yang hamil tua," tandasnya. 



(YDH)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG MAYAT BAYI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-04-2018