Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

Penelitian Masjid Harus Hati-Hati

Ilham wibowo - 10 Juli 2018 18:20 wib
Wakil Ketua DMI Komjen Syafruddin. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.
Wakil Ketua DMI Komjen Syafruddin. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.

Jakarta: Wakapolri Komjen Syafruddin meminta Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) berhati-hati menyebut masjid dalam penelitian. Ia membantah keras masjid diklasifikasikan dalam kategori radikal terorisme.  

"Mengadakan penelitian hati-hati, itu saya ingatkan," ujar Syafruddin di Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018. 

Wakil Ketua Dewan Masjid Indoensia (DMI) ini mengaku tak alergi dengan sebuah penelitian. Namun, standar proses yang dilakukan perlu disesuaikan secara akademis. 

"Kalau melakukan penelitian buat konsep yang jelas. Kalau berbicara masjid saya bantah itu," ujar dia. 

Syafruddin tak habis pikir masjid dijadikan objek penelitian kategori radikalisasi terorisme. Menurut dia, pemikiran radikal disebarkan melalui kelompok dan jaringan tertentu, bukan masjid sebagai tempat ibadah umat muslim. 

"Makanya hati-hati, jangan sampai dilaknat oleh Allah menuduh-nuduh masjid radikal. Saya membantah dan tadi malam Sekjen Dewan Masjid Indonesia sudah dialog dan sudah membantah itu," beber dia. 

P3M mengadakan survei pada 100 masjid, yakni, 35 masjid di kementerian, 28 masjid di lembaga negara, dan 37 masjid di BUMN. Hasilnya, ada masjid yang masuk kategori radikal.

"Masjid kementerian, dari 35 masjid sebanyak 12 masjid masuk kategori radikal," kata Koordinator Penelitian P3M Agus Muhammad di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Minggu, 8 Juli 2018.

Di 37 masjid BUMN, dia menemukan 21 masjid yang diindikasikan radikal. Sementara itu, dari 28 masjid lembaga negara, 8 di antaranya terindikasi radikal.

Agus menyebut ada klasifikasi dalam menetapkan masjid radikal: level rendah, sedang, dan tinggi. Terendah misalnya, adalah masjid yang tidak setuju intoleransi, tetapi memakluminya. Dari 41 total masjid yang dikategorisasi radikal, 7 di antaranya masuk level bawah.

"Contoh, khilafah pada dasarnya tidak setuju tapi memaklumi kalau ada yang memperjuangkan. Ini kami sebut radikalisme tingkat rendah," ungkap Agus.

Baca: BNPT dan MUI Diminta Sikapi Temuan Masjid Terindikasi Radikalisme

Di tingkat sedang, masjid menyetujui sikap intoleran dan setuju berdirinya negara Islam. Ada 17 masjid yang masuk level ini. Terakhir, masjid radikal level tinggi, yakni, 17 masjid yang bisa melakukan provokasi pada jemaah masjid.

"Misalnya agar ikut berjuang mendirikan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) atau memperjuangkan khilafah misalnya," jelas Agus.

Survei dilakukan pada 29 September hingga 21 Oktober 2017. Sebanyak empat kali ibadah salat Jumat menjadi bahan pertimbangan survei. 

Agus menyebut awalnya survei hanya untuk kepentingan internal. Terlebih saat itu, situasi dipandang tak kondusif untuk merilis survei ini. Penelitian tentang radikalisme masjid tersebut baru dibeberkan karena saat ini situasi cukup kondusif.


(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG RADIKALISME
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-07-2018