Gerak Kancil Dr Azhari (8)

Wandi Yusuf - 08 November 2017 23:01 wib
Petugas kepolisian menunjukkan sketsa terbaru Dr Azhari dan Noordin M Top di Surakarta, Solo, Jawa Tengah, Selasa (11/10/2005). Foto: Antara/Akbar Nugroho
Petugas kepolisian menunjukkan sketsa terbaru Dr Azhari dan Noordin M Top di Surakarta, Solo, Jawa Tengah, Selasa (11/10/2005). Foto: Antara/Akbar Nugroho

Metrotvnews.com, Jakarta: Aransemen bom yang diciptakan Dr Azhari mulai mengalun pada 12 Oktober 2002. Legian, Bali, berguncang. Sebanyak 202 orang meninggal. Sekitar 300 orang terluka dan sebagian besarnya cacat permanen. Hingga 15 tahun berselang, luka akibat bom itu masih terngiang, terutama bagi keluarga korban.

Tulisan ini hendak mengenang kembali peristiwa mengerikan yang kemudian dikenal dengan peristiwa Bom Bali I. Sudut pandang tulisan ini adalah sosok Dr Azhari. Bagaimana kiprahnya berada di balik setiap bom yang meluluhlantakkan sebagian tempat strategis di Indonesia. Mulai dari pertama kali diminta meracik bom, menebar teror, hingga akhirnya ditangkap pukul 15.45 WIB pada 9 November 2005 di Batu, Malang, Jawa Timur.

Bukan untuk membuka trauma. Setidaknya untuk mengingat kembali betapa sosok ‘gila’ macam Azhari sudah merusak harmoni di negeri ini.

Tulisan merujuk pada buku yang dirajut Komisaris Jenderal Arif Wachjunadi berjudul Misi Walet Hitam 09.11.05 – 15.45: Menguak Misteri Teroris Dr Azhari yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Arif saat ini menjabat Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Ia melakukan riset selama dua tahun dengan melakukan perjalanan ke semua lokasi terkait dengan Bom Bali I. Puluhan saksi, baik pelaku maupun pemburu teroris, dia wawancarai. Termasuk petugas lapangan yang menjadi ujung tombak penangkapan Dr Azhari.

Tiga ledakan di pelarian

Dua minggu setelah ledakan bom Bali, Ali Imron dan seluruh pelaku peledakan diundang ke Solo untuk bertemu di rumah kontrakan Dul Matin. Pertemuan dilakukan guna mengevaluasi sekaligus syukuran atas suksesnya rencana mereka. Sepuluh orang yang terlibat hadir. Pertemuan diisi dengan makan sate bersama.

Saat pertemuan, Dr Azhari berujar akan terus melanjutkan teror bom di Indonesia. Target dia adalah membuat kubu Amerika dan pendukungnya ketakutan.

Baca: Sidik Jari Dr Azhari di Bom Bali (1)

Ucapannya terbukti. Sejumlah teror bom bunuh diri terus dia tebar di Indonesia. Aksinya dia lakukan dalam persembunyian. Ketika teman-temannya ditangkapi, Azhari tetap leluasa meracik bom. Tercatat tiga peristiwa bom bunuh diri terjadi usai peristiwa bom Bali.

Bom pertama meledak di depan Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan. Kejadian berlangsung pada 5 Agustus 2003. Berselang hampir dua tahun dengan ledakan bom di Legian. Tercatat 14 orang tewas dan 150 orang terluka. Bertindak sebagai ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri adalah Asmar Latin Sani. Asmar didoktrin oleh Noordin M Top untuk melakukan aksi nekat itu.

Pada 9 September 2004 giliran Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang diguncang bom. Sebanyak 9 orang tewas dan 140 orang terluka. Bertindak sebagai pengantin adalah Iwan Darmawan dan Hasan. Lagi-lagi Dr Azhari terbukti sebagai perakit bom.

Dan bom ketiga meledak di Bali pada 1 Oktober 2005. Sebanyak 23 orang tewas dan 102 terluka. Ada tiga orang yang menjadi pengantin, yakni Salik Firdaus, Misno alias Wisnu, dan Ayib Hidayatullah.

Kemampuan Azhari dalam merakit bom semakin terasah. Ia mampu membuat bom dari bahan low explosive dengan daya ledak yang sama dengan high explosive. Dia menggunakan detonator jenis trinitrotulene (TNT) untuk melipatgandakan kekuatan bom.

Azhari juga yang pertama kali menggunakan material gotri untuk membuat bom. Penggunaan gotri menimbulkan efek rusak yang parah. Material gotri akan meluncur bak peluru saat bom meledak.

Selalu berhasil kabur

Azhari bukannya tak diburu. Tim pemburu dari kepolisian yang diketuai Gories Mere terus berupaya mengendus keberadaannya. Tapi Azhari cerdik. Tim pemburu kerap telat menangkapnya. Ambil misal usai peledakan bom di JW Marriot. Azhari dan Noordin M Top langsung melarikan diri ke Bandung.

Keduanya bersembunyi di kontrakan elite di kawasan Jalan Kebon Kembang 30, Kelurahan Tamansari. Mereka tinggal hampir tiga bulan dan sempat berpikir untuk melancarkan aksi bom bunuh diri di Bandung, namun batal.

Baca: Menjadi Misteri setelah Ledakan Bom Bali (3)

Sadar polisi sudah mendekat, Azhari dan Noordin M Top lantas meninggalkan Bandung. Benar saja, sekitar pukul 02.30 WIB pada 30 November 2003, beberapa jam setelah mereka keluar, tim pemburu datang.

Di kontrakan itu petugas hanya menemukan empat rakitan bom, empat kilogram TNT, sejumlah rompi, 12 batang paralon, tas jinjing, kardus, dan buku cara merakit bom.

Setelah meledakkan bom di JW Marriot, Azhari dan Noordin M Top masuk daftar buruan polisi. Selama itu pula mereka berpindah-pindah tempat tinggal mulai dari Surabaya, Pasuruan, Tretes, Malang, hingga Mojokerto.

Akhir Desember 2003 hingga Februari 2004, dua serangkai ini tinggal di rumah Hasan di Blitar, Jawa Timur. Hasan terlibat dalam pengeboman di Kedubes Australia. Lewat Hasan pula keduanya meninggalkan Blitar menuju Cengkareng, Jakarta Barat.

Azhari dan Noordin mengaku sebagai sales sebuah pusat perbelanjaan agar tak dicurigai. Baru empat hari di Cengkareng, jaringan teroris Solo tertangkap. Sadar tak aman, keduanya meninggalkan Cengkareng.

Baca: Kapolri: Sialan Lu! (5)

Benar saja, sehari berselang petugas menggerebek kontrakan berukuran 4x2,5 meter itu. Ditemukan residu bahan peledak jenis sulfur, potasium klorat, dan TNT. Namun, sang perakit bergerak ligat bak kancil. Menghilang.

Dari cengkareng, keduanya ke Cianjur Selatan, Jawa Barat, lalu pindah ke kontrakan milik Sun Puilin di Cikande Permai Blok F4 No 3, Serang, Banten. Di sana Azhari merakit bom untuk diledakkan di Kedubes Australia. Bom dibuat dari bahan seberat 600 kilogram.

Karangan bunga mengenang peristiwa bom diletakkan di depan kedubes Australia, Selasa (9/9/2008). Foto: Antara/Prasetyo Utomo

Sukses meledakkan bom di Kedubes Australia, Azhari dan Noordin lari ke Cilacap, Wonosobo, Temanggung, Pekalongan, Purbalingga, dan Semarang. Mereka selalu berpindah dari satu kota ke kota lain. Strategi ini membuat petugas kepolisian kesulitan menangkapnya.

Kelihaian keduanya berkelit membuat kepolisian membuat sayembara. Masing-masing kepala dihargai Rp1 miliar.

Bukannya gentar, dua sejoli ini justru merencanakan peledakan bom lagi. Lokasi yang dipilih adalah kawasan elite di Bali. Azhari mulai meramu bahan peledak di kontrakan di jalan Supriyadi, Semarang, Jawa Tengah. Dia memasukkan aneka bubuk berbahaya ke dalam pipa paralon. Azhari menyelesaikan tiga bom yang kemudian sukses diledakkan Salik, Misno, dan Ayib.

Baca: Densus 88 Antiteror Lahir (6)

Salik meledakkan bom Kafe Nyoman. Menyusul Misno meledakkan bom di Cafe Menega dan Ayib di Restoran Raja’s. Lokasi pengeboman di Kuta dan Jimbaran.

Semua bom meledak pada 1 Oktober 2005 bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila. Keputusan ini mengisyaratkan mereka tak mendukung ideologi Pancasila.

Untuk menyibak kasus ini, Polri mengutus AKBP Tito Karnavian dibantu AKBP Petrus Golose dan AKBP Rycko A. Dahniel. Dilibatkan pula AKBP Wahyu dan Brigjen Riza untuk menganalisis jenis bahan peledak.

Dalam penyelidikian, kepolisian menemukan banyak kesamaan antara bom Bali II dengan tiga bom sebelumnya, yakni bom Bali I, bom di JW marriot, dan Bom di Kedubes Australia.

Bahan bom selalu menggunakan TNT, baterai 9 volt merek HW produksi Malaysia, wadah bom pipa plastik, dan gotri. (Bersambung)




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG JEJAK TEROR DR AZHARI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 24-04-2018