BNP2TKI Kawal Proses Hukum dan Hak Almarhumah Adelina

Siti Yona Hukmana - 14 Februari 2018 11:39 wib
Ilustrasi: Penganiayaan. Foto: Medcom.id/Rakhmat Riyandi.
Ilustrasi: Penganiayaan. Foto: Medcom.id/Rakhmat Riyandi.

Jakarta: Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) terus mengawal kasus Adelina Lisao, tenaga kerja Indonesia, yang meninggal di Malaysia. BNP2TKI ingin hukum ditegakkan dan hak korban terpenuhi.

"Kami kawal proses hukum terhadap pelakunya dan juga mengawal agar hak-hak dari almarhumah Adelina diberikan kepada keluarga," kata Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, melalui rilisnya, Rabu, 14 Februari 2018.

Nusron mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memulangkan jenazah Adelina yang diduga disiksa majikannya. Senin kemarin, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang telah bertemu dengan Aida, agen di Malaysia, dan mendapatkan paspor korban. 

"Namanya sesuai paspor adalah Adelina Lisao, dengan nomor paspor A4725964, yang dikeluarkan Imigrasi Blitar. Alamat yang tertera di paspor yakni Desa Tanah Merah, RT07/03 Kupang Tengah, Kupang, NTT," ujar Nusron.

Adelina, menurut Nusron, pernah bekerja secara resmi di Malaysia dan pulang ke Tanah Air pada 29 September 2014. Dia masuk lagi secara ilegal pada 22 Desember 2014 via Lim, agen di Malaysia. Dia kemudian dipindahkan ke Aida dan diperkerjakan kepada Jaya, majikannya hingga meninggal.

"Saat ini polisi sudah menangkap Jaya dan saudara laki-lakinya, sementara diduga bahwa penyiksaan dilakukan oleh ibu kandung majikan," jelas Nusron.

Menurut Nusron, ibu kandung majikan segera ditangkap pihak berwenang di Malaysia. Mereka akan didakwa dengan hukum pidana dengan ancaman maksimal hukuman mati.

"Saya sudah instruksikan BP3TKI Kupang berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk juga berkomunikasi dengan keluarga mengenai proses ini," kata Nusron.

Baca: Dubes Malaysia: Pembunuh Adelina Diancam Hukuman Mati

Nusron telah mendapatkan informasi sementara dari satuan tugas (satgas) yang melihat langsung jenazah dan bertemu dengan dr Amir Sa'ad, pakar forensik RS Sebrang Jaya. Pihaknya juga sudah berdiskusi dengan Inspektur Zul, polisi Kantor Polisi Sebrang Prai Tengah.

"Hasil sementaranya, kematian disebabkan oleh anemia, hemoglobin 3,6 (normal 12-15),  malnutrisi 43 kg BMI 16 (normal 18) akibat pembiaran yang dilakukan majikan dalam jangka lama (lebih dari 1 bulan) dan bekas luka yang tidak diobati yang berakibat menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh," ungkap dia.

Dari hasil forensik sementara, kata Nusron, tidak ditemui bekas-bekas penganiayaan atau pemukulan dan tidak ada luka dalam. Sementara itu, penyebab bekas luka ditangan kanan diperkirakan karena bekas gigitan binatang dan tangan kiri akibat air keras.

"Penyebab luka masih dalam penyidikan. Dan Pemerintah Malaysia akan memanggil pakar forensik gigi dan dokter gigi dari Pusat Forensik Malaysia. Hasil postmortem akan disampaikan ke KJRI Penang," kata dia.




(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PENGANIAYAAN TKI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 19-02-2018