Keluarga Disebut Benteng Pertama dari Radikalisme

- 17 Mei 2018 12:44 wib
Warga melintas di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko.
Warga melintas di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko.

Jakarta: Masyarakat diajak memperkuat silaturahmi serta menjaga hubungan anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Sebab, keluarga adalah benteng pertama untuk menangkal paham radikalisme.
 
Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Milly Ratudian mengatakan, pentingnya menjauhkan orang-orang terdekat dan keluarga dari radikalisme. Caranya, menjalin komunikasi, berinteraksi dan menjaga interaksi itu dengan baik agar kualitas hubungan keluarga selalu terjaga.
 
"Tatapan mata dan ekspresi yang menunjukkan perasaan bisa dirasakan ketika bertemu langsung. Sehingga ketika salah satu anggota keluarga terlihat mulai berbeda dapat langsung dideteksi," ujar Milly dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 17 Mei 2018.
 
Dia menyarankan tiap anggota keluarga membiasakan saling mengapresiasi dan mengungkapkan perasaan. Mengenalkan emosi dan perasaan sejak dini sangat penting. Anak yang sejak kecil sudah diperkenalkan terhadap berbagai emosi akan lebih mudah mengungkapkan perasaan.
 
"Jangan pernah mengabaikan ungkapan perasaan karena akan menjadi salah satu faktor yang menghalangi komunikasi," katanya.
 
Selain itu, lanjut Milly, menyampaikan kritik dengan bahasa yang baik, tanpa bertujuan menjatuhkan. Hal terpenting adalah menyampaikan kritik langsung ke orangnya, bukan sengaja mengumbar di depan orang banyak.
 
"Resolusi konflik di keluarga menjadi bekal menghadapi konflik di luar. Mengalami konflik, belajar mengakui kesalahan, belajar menerima kritik, belajar bertanggung jawab, dan tidak lari dari masalah merupakan kemampuan yang sangat penting," ujar ibu dua anak ini.

Baca: UNS Ajak Kampus Jadi Benteng Penangkal Radikalisme

Terakhir, memahami bahwa setiap orang berbeda karakter. Memahami perbedaan karakter membuat kita paham bahwa tidak semua yang kita pikirkan dan rasakan itu sama dengan yang orang lain rasakan. Kita akan toleran, tidak memaksakan kehendak.
 
Milly mengecam aksi teroris yang melibatkan ibu dan anak-anak. Bahkan, dia mempertanyakan, sikap orang tua yang memutuskan melibatkan anak dalam aksinya.
 
"Ibu macam apa yang tega menyakiti anaknya? Apalagi membuat anak-anak ikut terbunuh dalam aksi mengerikan itu," katanya.
 



(FZN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TERORISME
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 25-05-2018