Mahasiswa Harus Siap Hadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0

Gervin Nathaniel Purba - 12 Februari 2018 18:02 wib
Dirjen Binapenta & PKK Maruli Hasoloan (Foto:Dok.Kemenaker)
Dirjen Binapenta & PKK Maruli Hasoloan (Foto:Dok.Kemenaker)

Bandung: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengingatkan mahasiswa untuk bersiap menghadapi  tantangan besar yang terjadi di  era revolusi industri 4.0 yang terjadi saat ini. Perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jabatan lama.

"Tantangan itu harus dihadapi sesuai pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0. Satu faktor yang penting adalah ketrampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,” kata Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kemenaker (Dirjen Binapenta & PKK)  Maruli Hasoloan, saat membuka IKA Unpad Job Expo di Bandung, Jawa Barat, Senin, 12 Februari 2018.

Maruli mengatakan revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri. Perubahan pun terjadi dalam dunia industri dewasa ini yang ditandai  berubahnya iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif karena perkembangan teknologi informasi.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja.  Selain itu, lembaga pendidikan juga harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif.

"Dunia industri juga harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten," katanya.

Di sisi lain, Direktur Pendidikan Universitas Padjajaran Wawan Hermawan menegaskan, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus mamiliki daya saing yang tinggi. "Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," imbuh Wawan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat Ferry Sofyan Arif mengatakan, sebanyak 30 persen dari 22 juta angkatan kerja di Jawa Barat adalah lulusan SMA/SMK. 

"Kegiatan jobfair semacam ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk penyerapan angkatan kerja. Selain itu, kedepannya kita juga akan mengarahkan angkatan kerja untuk menjadi wirausaha," tutur Sofyan.


(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BERITA KEMENAKER
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 22-05-2018