DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 12.710.947.522 (17 AGUSTUS 2018)

Pelaku Anak Bom Surabaya Nilai PPKn-nya Nol

Antara - 17 Mei 2018 17:48 wib
Walikota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) meninjau di lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.  Foto: Antara/M Risyal Hidayat.
Walikota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) meninjau di lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Foto: Antara/M Risyal Hidayat.

Surabaya:  Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, perlunya sanksi keras bagi siswa SD dan SMP yang nilai mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) nol.  Salah satu sanksi yang diusulkan berupa tinggal kelas atau tidak lulus sekolah.

Menurut Wali Kota yang akrab disapa Risma ini, usulan tersebut untuk menyikapi perilaku aneh sekolah dari salah satu anak yang menjadi pelaku bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro.  Sekolah dinilai tidak peka, meskipun mendapat anak yang diketahui menjadi pelaku bom bunuh diri di Surabaya kemarin meraih nilai nol untuk mata pelajaran PPKN.

"Anak itu nilai PPKN-nya nol. Kalau PPKN nol mestinya tidak boleh masuk kelas, dua kali berturut-turut ya dikeluarkan saja," kata Risma.

Anak yang dimaksud Risma adalah salah satu putri dari pelaku bom bunuh diri, Dita Oepriarto (bapak) dan Puji Kuswati (ibu), warga Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Dita dan Puji sendiri memiliki empat anak yakni  Yusuf Fadhil (18), Firman Halim (16), Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita.

Satu keluarga yang mati karena bom bunuh diri itu sebelumnya membagi peran saat melakukan aksi terornya. Dita meledakkan bom di GPPS Jalan Arjuno, Yusuf dan Firman di Gereja Katolik Ngagel, dan Puji bersama dua putrinya Fadhila dan Famela melakukan bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro.

Risma mengaku telah bertemu dengan salah satu guru kelas dari anak Dita dan Puji yang sekolah di salah satu SD swasta favorit di Kota Surabaya itu. Pada saat itu, Risma mendapatkan penjelasan dari guru kelas jika anak tersebut nilai PPKN-nya nol.

Padahal, lanjut dia, dalam mata pelajaran PPKN yang diajarkan di semua sekolah itu, tidak hanya mengajarkan nilai-nilai dalam pancasila saja, melainkan juga sopan santun, toleransi, gotong royong dan lainnya.  Selain itu, lanjut dia, yang mengagetkan, anak tersebut juga sempat menyampaikan pernyataan ke guru kelas maupun teman-temannya punya keinginan mati sahid.  "Katanya juga mau mati sahid," katanya.

Mestinya, kata dia, jika ada anak yang mengeluarkan kata-kata mati sahid seperti itu, maka pihak sekolah harus segera mengambil sikap untuk mengetahui apa yang terjadi pada siswa itu.
"Bisa saja, anak itu tidak sengaja mengucapkan itu. Tapi kita tetap harus merasakan aneh," katanya.

Hanya saja, saat di Balai Kota Surabaya, Mendikbud kurang merespon usulan dari Risma mengenai perlunya perubahan kurikulum atau kebijakan terkait sanksi bagi siswa yang mata pelajaran PPKN mendapat nilai nol.

"Saya sudah ketemu kepala sekolahnya, saya tanya biasa-biasa saja," kata Mendikbud.

Sementara itu, Risma menilai yang lebih tahu kebiasaan dari anak tersebut adalah guru kelasnya, bukan kepala sekolah. "Ya mungkin yang lebih tahu guru kelasnya," katanya.



 


(CEU)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TEROR BOM DI SURABAYA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 18-08-2018