DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.052.810.215 (14 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Cawapres Jokowi Dipastikan Capres 2024

Wandi Yusuf - 11 Juli 2018 17:47 wib
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan pada acara pembukaan Rakornas Tiga Pilar PDIP di Tangerang, Banten, Sabtu (16/12/2017). Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan pada acara pembukaan Rakornas Tiga Pilar PDIP di Tangerang, Banten, Sabtu (16/12/2017). Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Jakarta: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) memastikan calon wakil presiden Joko Widodo adalah figur yang dipersiapkan untuk menjadi calon presiden pada Pemilu 2024. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyatakan Pemilu 2019 adalah pemilu transisional.

"Pemilu 2019 menjadi ajang regenerasi kepemimpinan untuk Pemilu 2024. Calon presiden, cawapres, dan seluruh jajaran kabinet pada dasarnya merupakan bagian dari regenerasi kepemimpinan. Karena itulah kami menyebut pemerintahan ke depan merupakan pemerintahan transisional," kata Hasto kepada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018.

Menurut Hasto ada dua skenario dalam memilih cawapres untuk Jokowi. Pertama mengedepankan kepemimpinan transisional dan kedua sebagai stabilisator. Alasan kedua tak dipilih karena dinilai terlalu pragmatis.

"Unsur stabilisator tak kami pilih karena itu hanya untuk penguatan elektoral. Jadi, PDI Perjuangan pilih (skenario) yang pertama," kata Hasto.

Baca: Nama Cawapres Jokowi Makin Mengerucut

Skenario stabilisator sempat dipilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bisa menang kembali di Pemilu 2019. Saat itu, Sang Petahana menggandeng Boediono untuk menguatkan elektabilitasnya. Boediono tak dipersiapkan untuk regenerasi pada pemilu berikutnya.

Hasto memberi alasan kenapa lebih condong memilih skenario pertama. "Karena kami memikirkan skenario politik pemerintahan negara."

Menurut dia, regenerasi diperlukan agar transisi kepemimpinan berjalan mulus. Regenerasi juga diperlukan untuk kepentingan kebangsaan.

"Kami ingin menata sistem politik agar sesuai dengan kepribadian bangsa," kata dia.

Kepentingan ini, kata Hasto, disetujui semua parpol pendukung Jokowi. Beberapa yang menjadi perhatian antara lain menjadikan MPR sebagai lembaga tertinggi dan menetapkan kembali pola-pola pembangunan semesta berencana, dalam hal ini merumuskan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Dari kepentingan 'langitan' ini, kata Hasto, barulah pembicaraan bergeser pada pembagian kekuasaan. Karena, kata dia, hakikat keberadaan parpol adalah untuk kepentingan bangsa.

Baca: PDIP dan Jokowi Kaji Kriteria Cawapres

Dikabarkan ada sejumlah nama yang menguat untuk menjadi pendamping Jokowi. Hasto tak menampiknya. Dia menyebut Jokowi dan Megawati sudah membicarakan kandidat cawapres secara serius saat bertemu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat, Minggu, 8 Juli 2018.

"Pak Mahfud MD kan saat ini menjadi bagian dari kepengurusan Dewan Pengarah dalam Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Kita tahu track record beliau. Semikian pula nama-nama yang beredar di masyarakat. Ada Pak Moeldoko, Pak TGB, Pak Ma'ruf Amin, dan lainnya. Semua nama yang muncul termasuk yang masih tersimpan di hati rakyat, itu pun kami cermati," kata Hasto.




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILPRES 2019
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 19-11-2018