NU Kutuk Kebijakan Trump soal Yerusalem

Misbahol Munir - 07 Desember 2017 13:30 wib
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Dok/AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Dok/AFP

Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengutuk pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump sekonyong-konyong menetapkan Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel.

Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas menyampaikan langkah Trump bisa mengguncang perdamaian internasional. Kebijakan Trump dapat menumbuhkan radikalisme di antara negara-negara.

"(Trump) menolak kebenaran sejarah," kata Robikin, Kamis, 7 Desember 2017.

Ketua Umum Pagar Nusa Nahdlatul Ulama, M. Nabil Haroen menambahkan, selain membuat konstelasi politik Timur Tengah dan dunia internasional terguncang, langkah Trump memupus upaya perdamaian yang diinisiasi Palestina dan Israel.

"Kebijakan ini akan merusak inisiasi damai yang dikembangkan Palestina-Israel, yang juga didukung oleh banyak negara, di antaranya Pemerintah Indonesia," kata Nabil yang baru saja menghadiri Konferensi Perdamaian Internasional di Korea Selatan.

"Sebagai ormas Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama sudah bersikap tentang bagaimana pentingnya perdamaian di kawasan Timur Tengah, khususnya perdamaian Palestina-Israel," paparnya.


(Kanan-kiri). Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, bersama Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas, Ketua Umum Pagar Nusa NU M. Nabil Haroen dan Wasekjen PBNU Isfah Abidal Aziz.

Ia menambahkan Pagar Nusa sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang berkonsentrasi pada ranah keamanan, geo-politik dan pertahanan, mengutuk keras Kebijakan Trump.

Menurut Nabil inisiasi perdamaian yang selama ini dibangun akan porak-poranda. Terlebih, Yerussalem sebagai kota suci, yang menjadi rujukan kota spiritual tiga agama: Islam, Yahudi, dan Nasrani.

Nabil berharap ada solusi lain untuk menjaga konstelasi perdamaian. "Jangan sampai kebijakan ini menjadi bumerang bagi politik internasional Amerika Serikat dan mendorong meningkatnya ketegangan. Pagar Nusa berharap dialog antar pemuka umat agama di lintas negara menjadi jembatan untuk membangun perdamaian Palestin-Israel," kata dia.

Isu Israel-Palestina merupakan wajah politik Timur Tengah dan dunia internasional. Selama ini, Nahdlatul Ulama konsisten mendorong perdamaian antara Israel-Palestina, dan juga di kawasan Timur Tengah.


(MBM)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG AMERIKA SERIKAT
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 13-12-2017