Jokowi Harus Hati-hati Merombak Kabinet

Dheri Agriesta - 12 September 2017 18:22 wib
Presiden Joko Widodo/ANT/Rosa Panggabean
Presiden Joko Widodo/ANT/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Jakarta: Kabar perombakan kabinet kembali mencuat beberapa waktu terakhir. Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Arya Fernandes menilai Presiden Joko Widodo harus hati-hati mengambil keputusan perombakan pembantunya.

Arya menjelaskan, berdasarkan survei CSIS, masyarakat masih mengeluh tentang tingginya harga bahan pokok dan kurangnya lapangan pekerjaan. Tahun pertama dan tahun kedua pemerintahan menjadi ujian berat buat Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla di bidang ekonomi.

"Pada dua perombakan kabinet yang dilakukan sebelumnya, titiknya pada kementerian di bidang ekonomi," kata Arya di Kantor CSIS, Jalan Tanah Abang 3, Jakarta Pusat, Selasa 12 September 2017.

Arya mengatakan, Jokowi sadar betul gangguan di bidang ekonomi bisa memengaruhi kepuasan masyarakat. Belakangan, pemerintah gencar mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Arya menilai Presiden Jokowi harus hati-hati jika ingin melakukan perombakan kabinet pada tahun ketiga pemerintahan ini. "Terutama pada menteri yang berasal dari partai politik," tambah Arya.

Bila salah langkah, keputusan yang diambil bisa menjadi bumerang buat mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Apalagi, rentang waktu menjelang tahapan pemilihan presiden tinggal setahun.

Namun, bukan berarti Presiden Jokowi tak boleh merombak kabinet. Presiden, ujar Arya, bisa saja merombak jika menilai kinerja para menteri kurang moncer.

"Daripada dilakukan pada tahun keempat," ucap Arya.

Perombakan kabinet yang dilakukan pada tahun keempat sangat riskan. Psikologi para menteri yang berasal dari partai politik dinilai akan terganggu.

"Kalau ukuran adalah kinerja, perombakan kabinet bisa menjadi pilihan, tentu harus dilakukan dengan hati-hati," jelas Arya.


(OJE)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG RESHUFFLE KABINET
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-09-2017