Peluang Gatot pada Pilpres 2019 Dinilai Kecil

Dheri Agriesta - 07 Desember 2017 17:45 wib
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo/MTVN/Adin
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo/MTVN/Adin

Jakarta: Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) J. Kristiadi menilai peluang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk ke ranah politik setelah pensiun sangat kecil. Apalagi, Gatot tak punya partai politik untuk bernaung.

"Dia populer karena menjadi panglima. Tapi (kalau) bukan Panglima, pasti ada yang mempertanyakan, siapa dia? Ada kekuatan apa di situ?" kata Kristiadi di sela-sela diskusi di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis 7 Desember 2017.

Kristiadi menjelaskan partai politik memiliki peran penting dalam perhelatan pesta demokrasi, seperti pemilihan presiden. Gatot, kata dia, harus bergabung dengan partai politik jika ingin bersaing dalam pilpres.

Partai politik akan mengutamakan kader untuk dicalonkan. Hingga saat ini, belum ada yang melirik Gatot untuk pemilihan presiden.

"Tapi kemungkinan ada yang menawari. Kenapa? Kalau mendirikan partai, kalau enggak ada polisi dan TNI, kurang merasa hebat," jelas Kristiadi.

Kristiadi juga melihat Gatot sebagai panglima penuh kontroversi. Tak jarang, Gatot dinilai mengambil kebijakan politis.

"Dan orang yang mau mengajak dia berpolitik harus menimbang-nimbang dulu untuk ruginya," ujar dia.

Sejumlah lembaga survei menggadangkan nama Gatot Nurmantyo sebagai calon presiden dan pakil presiden. Poltracking Indonesia memaparkan Gatot Nurmantyo mendapatkan 3,1 persen dalam simulasi elektabilitas 10 nama calon presiden.

Namun, nama Gatot menjadi pemuncak dalam simulasi kandidat wakil presiden. Gatot mendapatkan 16,4 persen, unggul 0,4 persen dibanding Agus Harimurti Yudhoyono.


(OJE)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILPRES 2019
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 13-12-2017