Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.626.772.093 (16 JULI 2018)

Menakar Efektivitas Jargon dalam Pemilu

- 11 Januari 2018 15:32 wib
Pengendara sepeda motor melintas di depan baliho bakal calon peserta Pilkada serentak 2018 di Jalan KSR Dadi Kusmayadim Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Yulius Satria)
Pengendara sepeda motor melintas di depan baliho bakal calon peserta Pilkada serentak 2018 di Jalan KSR Dadi Kusmayadim Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Yulius Satria)

Jakarta: Menjelang pemilu, setiap pasangan calon yang bertarung selalu berusaha untuk menarik perhatian pemilih. Tak hanya program, sering kali pasangan calon juga menggunakan jargon tertentu untuk menjelaskan visi misi yang ditawarkan secara lebih singkat.

Namun menurut Budayawan Prie GS, penggunaan jargon, yang unik sekalipun pada dasarnya tak berkaitan dengan efektivitas visi misi yang ingin disampaikan. Bagi dia, penggunaan jargon hanya tentang memanfaatkan politik dari sisi yang lain.

"Jargon itu bukan efektivitas, tetapi hiburan. Karena wajah politik itu sebagiannya adalah entertain. Jadi kita jangan terlalu tegang memandang politik karena sisi lain itu entertain," ungkap Prie, dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis 11 Januari 2018.

Prie memandang hajat pilkada adalah pesta rakyat. Seni jargon yang digunakan dalam pertarungan pilkada terlepas dari sifat politik atau tidak, hal itu merupakan bagian dari sastra.

Penggunaan jargon, kata Prie, tak lain untuk memberikan pendidikan sastra ke publik yang memang tidak terlalu berhasil ketika diterapkan di sekolah-sekolah. Paling tidak jargon akan selalu menarik minimal di mata pembuatnya.

"Perkara ada tidaknya kesenjangan artistik itu biasa. Tapi mana ada sekarang pendidikan sastra yang seefektif dan seintensif ini. Secara kebudayaan saya tertarik (dengan penggunaan jargon)," katanya.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik Lely Arianie tak sepakat jika jargon tak berkaitan dengan efektivitas penyampaian visi misi yang dilakukan oleh pasangan calon.

Lely menilai penggunaan jargon terbukti cukup efektif untuk menyampaikan pesan politik dan menggambarkan identitas pasangan calon kepada para pemilih.

Misalnya saja seorang calon memasang foto di papan reklame. Mungkin masyarakat sudah tahu sifat dan kepribadian orang macam apa yang tampil dalam papan reklame tersebut.

Namun ketika tampilannya diatur dengan mengenakan kopiah, sorban, memegang alquran dengan latar belakang kakbah misalnya, simbol yang ingin ditunjukkan adalah si calon tersebut merupakan sosok yang religius.

"Jadi ini adalah cara dia untuk membuat branding image politik dia di mata calon pemilih," kata Lely.

Bedanya, kata Lely, dalam politik efektivitas itu harus terukur karena dia punya target politik. Jangan lupa bahwa partai politik didirikan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

"Dalam literatur politik manapun, jargon yang digunakan akan bergantung pada tipologi pemilih dan letak geografisnya. Misalnya seperti apa kelompok pemilih di sana, apakah pemilih tradisional, sosiologis, atau psikologis," ungkapnya.

Menurut Lely, program atau visi dan misi yang ditunjukkan melalui simbol bisa mendukung atau tidak tergantung pada cara dari calon pasangan menampilkannya.

Seperti apa branding image politik yang ditampilkan akan menentukan kemenangan calon itu sendiri, bukan berdasarkan parpol atau dukungan koalisi.

"Jargon itu pencitraan. Tapi dalam politik suka dibalik ketika ada orang menggunakan segala cara untuk menunjukkan identitasnya itu pencitraan. Tetapi mereka yang memang tulus itu bukan pencitraan," katanya.

Lely mengatakan memang sulit menentukan apakah pasangan calon melakukan pencitraan atau memang tulus. Pemilih perlu hati-hati untuk urusan itu.

"Kalau perlu setiap tahun adakan pilkada. Karena ketika masa itu semua calon tampak demikian baik, ramah, sopan, dekat, dermawan. Padahal yang biasanya terjadi, komunikasi antara pemilih itu selesai ketika calon pemimpin sudah dipilih," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILKADA 2018
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 16-07-2018