Presiden: Kita Tendang Ormas Penentang Pancasila

Achmad Zulfikar Fazli - 19 Mei 2017 18:35 wib
Presiden Jokowi. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.
Presiden Jokowi. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo tak akan mengampuni organisasi masyarakat (Ormas)  yang bertentangan dengan Pancasila. Ideologi Pancasila sudah final dan tak bisa diganggu gugat.
 
Hal itu disampaikan Presiden di hadapan sekitar 1.500 prajurit TNI usai menunaikan salat Jumat dan santap siang di Aula Kartika, Tanjung Datuk, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Jumat 19 Mei 2017.
 
"Sekali lagi, negara Pancasila itu sudah final. Tidak boleh dibicarakan lagi," tegas Presiden, Jumat siang.
 
Presiden mengaskan, jika ormas mengganggu ideologi Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan kebinekaan bangsa, negara tidak akan diam. "Kalau ada ormas yang seperti itu, ya kita gebuk," tegas dia.
 
Bekas Gubernur DKI Jakarta itu juga tak akan diam bila ada yang mengatakan PKI kembali bangkit di Tanah Air. Sebab, Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 telah mengatur dan menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang.
 
"Ya kita gebuk, kita tendang, sudah jelas itu. Jangan ditanyakan lagi, jangan ditanyakan lagi, payung hukumnya jelas, TAP MPRS," kata Presiden.
 
Masalah Keterbukaan
 
Presiden mengakui adanya dampak dari penggunaan media sosial. Dampak itu, kata dia, juga dialami oleh hampir semua negara di dunia.
 
"Kalau media sosial, di negara mana pun dengan keterbukaan mengalami masalah yang sama semuanya. Ada fake news, ada hoaks, berita fitnah, berita bohong dan semua orang banyak yang kena," kata Presiden.
 
Presiden bercerita pengalamannya bertemu berbagai kepala negara. Pada umumnya, mereka mengeluhkan penyebaran berita bohong yang juga terjadi di seluruh negara.
 
"Mereka menyampaikan, Presiden Jokowi, kalau media mainstream, koran, majalah, televisi bisa kita ajak bicara. Tapi kalau media sosial, setiap individu bisa menyampaikan berita benar atau tidak benar, setiap individu bisa membuat blog, situs, bisa ngetweet, facebook, bisa membuat vlog, semua individu bisa," tutur Presiden menirukan ucapan para kepala negara.
 
Karena itu, Presiden menilai butuh upaya bersama untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab itu. Salah satunya, melawan penyebaran berita bohong dengan memberikan klarifikasi dan menyampaikan hal yang benar kepada masyarakat.
 
"Tugas kita bersama untuk membentengi negara ini dari, kadang-kadang, panasnya suasana, kabar-kabar bohong seperti itu, kabar-kabar fitnah seperti itu," ucap dia.
 
Presiden berpesan jangan sampai energi bangsa ini habis karena mengerjakan hal-hal yang tidak perlu. "Saling fitnah, saling menghujat, saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mendemo, saling menolak, habis energi kita untuk itu," ujarnya.
 
Menurut Presiden, negara lain sudah memikirkan kemajuan teknologi. Bila Indonesia terus berkutat pada hal-hal yang tidak produktif, Presiden khawatir Indonesia semakin tertinggal.
 
"Kita hanya terjebak pada hal yang menghabiskan energi. Energi kita habis dan kita tidak mendapatkan apa-apa, kecuali saling curiga di antara kita," kata Presiden.
 


(FZN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PEMBUBARAN HTI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 29-05-2017