Partai Setan di Era Pascakebenaran

Irvan sihombing - 16 April 2018 10:50 wib
Amien Rais. Foto: Regina Safitri
Amien Rais. Foto: Regina Safitri

Jakarta: Pada awal kemerdekaan Indonesia, pertarungan politik yang begitu sengit terjadi di antara sesama bapak bangsa. Tokoh Proklamator Soekarno dikudeta diam-diam oleh Sutan Sjahrir yang juga seorang perintis kemerdekaan Indonesia.

Sjahrir berhasil menjadi perdana menteri pertama karena adanya perubahanan sistem pemerintahan dari presidensial ke parlementer. Para menteri tidak lagi tunduk kepada Soekarno. Ia hanyalah seorang kepala negara dan bukan kepala pemerintahan.

Soekarno tidak merisak. Ia tetap membantu Kabinet Sjahrir yang memerintah 14 November 1945-12 Maret 1946. Bung Karno memang gundah karena kekuasaannya berkurang. Namun, ia tidak berkeletah layaknya seseorang yang mengalami post power syndrom.

Putra Sang Fajar malah mengibaratkan dirinya dengan rotan yang ringan, kuat, dan elastis. "Seperti rotan, saya hanya melengkung, tidak patah."

Bayangkan betapa dahsyatnya ucapan itu. Ia kalah, tetapi tidak luluh lantak akibat dikalahkan.

Komunikasi politik Bung Karno memang sarat metafora. Pengajar Ilmu Politik Universitas Lund, Erik Ringmar, mengatakan maraknya penggunaan metafora di dunia politik bukan hal aneh. Politik, bagaimanapun juga, ialah seni menggunakan kekuasaan untuk meraih tujuan sosial.

Berbeda dengan masa lalu, pertarungan politik saat ini lebih menjurus pada situasi banal, kasar, dan tanpa keelokan. Rakyat tidak lagi disuguhi metafora yang mencerdaskan. Elite politik cenderung melontarkan pernyataan berpotensi memecah belah bangsa.

Memecah belah

Tokoh paling berpengaruh di Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais baru-baru ini mengatakan orang-orang yang anti-Tuhan otomatis bergabung dalam partai besar. "Itu partai setan," kata Amien dalam sebuah acara di Jakarta, Jumat, 13 April 2018, pagi.

Pembelahan yang dilakukan Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212 itu sontak mengingatkan pada Presiden Amerika Serikat George W Bush. Awal 2002, Bush menyebut Iran, Irak, dan Korea Utara, sebagai Poros Setan karena mengembangkan senjata nuklir dan mendukung teroris.

Ucapan yang kerap dilontarkan Bush itu kemudian jadi pembenaran bagi Amerika dan sekutunya untuk menginvasi Irak. Belakangan, PBB meragukan klaim bahwa Irak mengembangkan senjata pemusnah massal. PM Inggris Tony Blair pun akhirnya mengakui tak ada senjata itu di Irak.

Baca: Amien Rais Dilaporkan ke Polisi

Amien Rais sah-sah saja melakukan pembelahan partai politik. Ia juga bebas berbicara karena tidak lagi hidup di era Soeharto yang otoriter. Yang penting jangan menuding partai lain sebagai partai setan, tetapi ternyata punya maksud terselubung seperti halnya Bush.

Apalagi di era pascakebenaran, era yang batas antara yang benar dan dusta telah menjadi kabur. Ralph Keyes dalam bukunya The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life mengatakan orang kini menambah fakta dengan bumbu kebohongan.

Tidak pantas buat elite politik bermain di air keruh. Bila tidak bisa menggunakan metafora seperti Soekarno, setidaknya bersikaplah bijaksana dan jangan mengumbar dusta. (Nav/P-1)




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG AMIEN RAIS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 25-04-2018