Kebutuhan Alutsista Mendesak

M Sholahadhin Azhar - 11 Agustus 2017 15:04 wib
Sukhoi meluncur di tengah laut. Foto: Antara/Yusran Uccang
Sukhoi meluncur di tengah laut. Foto: Antara/Yusran Uccang

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebutuhan alat utama sistem pertahanan (alutsista) khususnya pesawat tempur bagi TNI cukup mendesak. Pesawat tempur F5E yang dibeli beberapa tahun lalu tak sanggup mengimbangi alutsista negara lain.

"Kita harus membeli alutsista, sistem senjata yang terbaik dan pernah diuji coba untuk perang. Jadi, kita enggak ragu-ragu," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jumat 11 Agustus 2017.

Saat ini TNI mengajukan permintaan pembelian pesawat Sukhoi Su-35 lengkap dengan persenjataannya. Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan tengah memproses pengajuan itu.

Isu yang berkembang, mekanisme pembelian pesawat buatan Rusia ini akan dipenuhi dengan sistem barter. Ada hasil komoditas perkebunan Indonesia yang menarik minat Rusia untuk menukar tambah Sukhoi 35. Panglima TNI setuju saja dengan langkah tersebut. "Ya sangat bagus dong," katanya.

Lebih lanjut, Panglima menilai pesawat Sukhoi yang akan dibeli ini adalah produk mutakhir. Sudah pernah diuji coba dengan hasil optimal dan sangat cocok untuk bermanuver tempur di udara.

Bahkan, pilot Indonesia sendiri sudah pernah mencoba performa dari pesawat tempur yang dibanderol sekitar USD1,5 miliar ini. "Jangan kita membeli hal-hal yang belum pernah kita uji coba," kata Gatot.

Alutsista masa depan

TNI juga berencana menambah kapal selam. Penambahan kapal selam ini dinilai tepat. Pengamat militer Susaningtyas N.H. Kertopati menyatakan armada kapal selam merupakan alutsista unggulan TNI di masa depan. Tak heran jika pemerintah terus meningkatkan postur tempur TNI dengan menambah jumlah kapal selam.

“Sudah tepat kiranya pemerintah saat ini meningkatkan postur tempur TNI dengan menambah jumlah kapal selam,” ujar Susaningtyas.

Pendapat itu disampaikan Nuning, sapaannya, terkait rencana kedatangan kapal selam buatan Korea Selatan, KRI Nagapasa-403, akhir bulan ini.

Menurutnya, penggunaan kapal selam di masa damai berbeda dengan di masa perang. Penggunaan di masa damai ditujukan untuk pengumpul data intelijen maritim.

Data-data intelijen dapat diolah dan disampaikan kepada pengguna akhir, yaitu Presiden melalui Badan Intelijen Negara (BIN). Presiden dan kabinet dapat memanfaatkan data intelijen maritim untuk mengambil keputusan dalam menentukan kebijakan nasional sesuai visi Poros Maritim Dunia.

“Di masa perang, kapal selam dapat digunakan untuk melaksanakan infiltrasi agen intelijen atau pasukan khusus,” ujarnya.

Kapal selam KRI Nanggala-402 di Laut Jawa, Jumat 20 Januari 2017. Foto: Antara/Syaiful Arif

Kedatangan kapal selam pertama dari galangan kapal Korsel itu menjadikan komposisi kekuatan TNI AL menjadi tiga kapal selam berstatus operasional.

Fungsi asasi kapal selam, ujar Nuning, adalah intai taktis-strategis dan pemukul awal. Dengan fungsi asasi tersebut, maka pola penggelaran dan pola pengerahan harus difokuskan pada efek penggentar.

Pola gelar kapal selam harus berada di pangkalan depan. Sedangkan, pola pengerahan dari pangkalan depan ke daerah operasi atau ke pangkalan aju. Dengan pola penggelaran dan pola pengerahan yang tepat, maka 1 kapal selam bisa menyebabkan 1 armada kapal lawan terkunci di suatu zone.

“Kapal selam dapat melaksanakan blokade laut yang efektif dan efisien. Jika kapal selam dilengkapi kemampuan menyebar ranjau, maka efek penggentar tersebut meningkat beberapa kali. Efek penggentar sebesar itu dalam dunia militer dikenal sebagai salah satu bentuk pshyco warfare atau perang urat syaraf,” tuturnya.

KRI Nagapasa-403 adalah kapal selam yang dilengkapi dengan peluncur torpedo 533 mm. Kapal selam canggih ini juga dilengkapi peluru kendali antikapal permukaan dan merupakan bagian dari modernisasi kapal selam TNI Angkatan Laut.


(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG ALUTSISTA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-10-2017