Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.408.300.797 (20 JUNI 2018)

Poros Ketiga di Pilpres Sulit Terwujud

- 13 Maret 2018 06:00 wib
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Medcom.id/ Gervin N
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Medcom.id/ Gervin N

Jakarta: Ada tidaknya poros ketiga di Pemilihan Presiden 2019 terus menjadi bahan diskusi publik. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon memprediksi hanya ada dua calon yang bakal berkontestasi di Pilpres 2019, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Artinya, kontestasi pada Pilpres 2014 akan kembali terjadi di Pilpres 2019. Prediksi saya dari awal kan memang akan head to head. Hanya ada dua calon. Rematch atau two horse race. Jadi, sejak awal saya berpendapat seperti itu," ujar Fadli di Gedung DPR, Senayan, kemarin.

Hingga detik ini, baru Jokowi yang dipastikan akan berkompetisi. Sebagai petahana, ia sudah mendapat dukungan resmi dari Partai NasDem, Golkar, PPP, Hanura, dan PDIP. Sebaliknya, Prabowo belum mendeklarasikan diri, tetapi dikabarkan dia akan diusung Partai Gerindra dan PKS. Tiga partai lainnya, yaitu PKB, Demokrat, dan PAN, dilaporkan masih berusaha bernegosiasi untuk membentuk poros baru.

Fadli menilai sulit untuk merealisasikan poros ketiga sebab hingga saat ini hanya ada dua nama yang dianggap mampu, yakni Jokowi dan Prabowo. Terlebih, Demokrat juga telah memberikan sinyal untuk mendukung Jokowi.

"Poros ketiga itu saya kira agak lemah dari sisi analisis. Dari sisi kultur maupun dari sisi persenyawaan politiknya, itu mungkin agak kurang. Menurut saya, akan hanya ada dua calon walaupun yang namanya politik apa saja bisa terjadi," tandas Fadli.

Ketua PAN Zulkifli Hasan menyatakan pihaknya membuka pintu bila Demokrat dan PKB serius untuk membentuk poros ketiga. Namun, menurutnya, poros itu merupakan keajaiban.

"Semua kan terbuka. Baru pertemuan-pertemuan informal antara parpol. Jadi, semua kemungkinan masih terbuka walaupun secara rasional dua poros," tutur Zulkifli.

Di lain sisi, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menilai peluang Demokrat untuk membentuk poros ketiga masih cukup besar. Mardani bahkan mengatakan Demokrat bisa main tiga kaki.

"Demokrat dengan rapimnas kemarin menurut saya masih tetap mendua, meniga bahkan. Peluang (Demokrat) buat poros ketiga besar, peluang mendukung Jokowi dengan catatan AHY masuk (jadi cawapres), besar. Peluang gabung Pak Prabowo ada," ucap Mardani.

Dia menambahkan, belum adanya sikap resmi Demokrat di rapimnas ialah bagian dari strategi. Demokrat sangat berkepentingan memajukan kadernya di Pilpres 2019 karena partai yang menampilkan tokoh internal akan sukses untuk pemilihan legislatif.

Tim penjaringan

Jika calon-calon lain masih sibuk menentukan capres, kubu Jokowi sudah mulai bekerja untuk memilih cawapres.

Tim untuk menjaring figur-figur terbaik sebagai pendamping Jokowi pun sudah dibentuk dan Mensesneg Pratikno masuk di dalamnya.

Di Istana Bogor, kemarin, Pratikno mengakui terlibat dalam penjaringan cawapres Jokowi, tetapi ia membantah sebagai ketua tim. "Enggaklah kalau saya jadi koordinator segala macam. Enggak ada. Juga tidak ada tim formal karena pembahasannya informal saja."

Pratikno mengatakan ada beberapa kalangan yang diajak berdiskusi oleh Jokowi tentang sosok yang tepat untuk menjadi cawares. Hanya saja, ia enggan menyebutkan siapa saja yang dimaksud. "Presiden membutuhkan masukan dari banyak pihak, termasuk suara partai.

Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno tidak mempersoalkan adanya tim internal tersebut. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa kelak partai politik ialah pihak yang berwenang untuk mengusung pasangan capres dan cawapres sebagaimana tercantum dalam UUD 1945.

"Partai politik sudah melewati babak kualifikasi dan langsung memasuki babak semifinal. Kalau ada tim lain yang dibentuk, itu pasti masih babak kualifikasi," tukas Hendrawan. (Media Indonesia)


(SCI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILPRES 2019
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 21-06-2018