Pilpres 2019 Kembali ke Pertarungan Lama

Astri Novaria - 12 Agustus 2017 10:12 wib
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) di teras belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11/2016). Foto: Antara/Widodo S. Jusuf
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) di teras belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11/2016). Foto: Antara/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemilihan Presiden 2019 mungkin akan mengulang peta persaingan dan pola-pola yang terjadi di Pilpres 2014. Rivalitas pun dikhawatirkan bakal tetap kental dengan aroma primordial.

Menurut peneliti senior CSIS J Kristiadi, saat ini peta politik dan koalisi parpol nanti sudah tergambar. Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat mulai menjalin komunikasi, sedangkan beberapa partai pendukung pemerintah sudah memantapkan pilihan untuk kembali mengusung Jokowi pada Pilpres 2019.

"Berarti kita kembali pada pertarungan lama. Di pertarungan lama, kalau tidak ada kekuatan media yang menetralisasi, itu menjadi kekuatan berbau primordial," ujar Kristiadi dalam diskusi bertema Menuju tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK: Pergeseran dukungan partai dan peta kontestasi calon presiden 2019 di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, rakyat sebagai pemilih hanya dianggap data dan angka sehingga kemenangan merupakan harga mutlak. Kristiadi mencontohkan, dalam Pemilu 2014, masyarakat disuguhi perang opini negatif dari simpatisan serta pendukung Joko Widodo ataupun Prabowo Subianto.

"Inti dari pemilu sebetulnya bukan untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang dan siapa yang jadi pemimpin. Masyarakat sebagai pemilih berhak mendapatkan pendidikan politik," kata Kristiadi.

Baca: Strategi Gerindra Kalahkan Jokowi di Pilpres 2019

Pada kesempatan itu, Ketua Lingkar Madani, Ray Rangkuti, memprediksi Pilpres 2019 akan diikuti dua pasangan. Ia menyarankan Prabowo untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai presiden mengingat elektabilitasnya mentok di 35%.

Jika melihat cara berpolitik Prabowo, menurut Ray, tidak tertutup kemungkinan yang bersangkutan akan legawa untuk tak maju lagi dalam kontestasi.

"Ada kesan bahwa Prabowo terlihat lebih mementingkan kekompakan. Artinya, jika semakin menguat suara kelompoknya untuk tidak mencalonkan Prabowo, ini bisa jadi pilihan Pak Prabowo akan legowo tidak dicalonkan," kata Ray.




(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILPRES 2019
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 24-10-2017