Petani ASEAN Hadapi Badai Pangan

Kabul Indrawan - 14 November 2017 19:28 wib
Guru Besar Keamanan Pangan Nanyang Technological University, Singapura, Paul Teng. Foto: Metro TV/Kabul Indrawan
Guru Besar Keamanan Pangan Nanyang Technological University, Singapura, Paul Teng. Foto: Metro TV/Kabul Indrawan

Metrotvnews.com, Manila: Perubahan iklim membuat petani di negara anggota ASEAN menghadapi persoalan serius. Situasi ini berubah menjadi badai pangan (food storm) tatkala luas lahan dan sumber daya manusia terus terterus.

"Tak ada cara lain untuk menolong petani dalam menyiapkan pangan dan meningkatkan kesejahteraan selain pengembangan teknologi pertanian. Contohnya, mengembangkan bioteknologi," kata Guru Besar Keamanan Pangan Nanyang Technological University, Singapura, Paul Teng, dalam pertemuan Plant Science Premier Asean di Manila, Filipina, Selasa 14 November 2017.

Data FAOstat pada 2012 mencatat hanya 16% lahan di ASEAN yang dapat ditanami atau rata-rata 0,12 hektare per kapita. Bahkan, jumlah lahan produktif juga terus menyusut sebesar 3 persen per tahun akibat berubah menjadi perumahan maupun industri.

"Anomali cuaca dan meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman semakin merugikan petani," kata Paul.

Badai pangan, kata dia, membuat petani harus bekerja lebih keras untuk memenuhi pangan penduduk bumi. Tak heran jika kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan signifikan.

Indonesia misalnya. Berdasarkan data Bank Dunia pada 2016, kontribusi Indonesia di bidang pertanian untuk GDP hanya 13,5 persen atau melemah 1,7 persen dibandingkan pada 2000.

Saat penduduk bumi mencapai 7,6 miliar, sebanyak 60 persennya diperkirakan tinggal di Asia. "Penduduk bumi pasti membutuhkan makanan. Dan itu harus dipenuhi para petani," kata dia.

Di masa depan, Paul memprediksi pertanian menjadi bisnis yang sangat menjanjikan dan sangat menguntungkan.


(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PANGAN GLOBAL
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA POLITIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-11-2017