Eksklusif Sam Perkins: Nostalgia Emas Olimpiade dan Michael Jordan

Alfa Mandalika - 12 September 2017 17:39 wib
Sam Perkins (kanan) bersama para peserta National Training Camp Jr. NBA Indonesia 2017. (Foto: Dok. Jr NBA Indonesia)
Sam Perkins (kanan) bersama para peserta National Training Camp Jr. NBA Indonesia 2017. (Foto: Dok. Jr NBA Indonesia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi Anda pencinta basket NBA sejak era 1980an, mungkin tidak asing dengan nama Sam Perkins. Power Forward kelahiran Brooklyn New York itu berkarier di NBA selama 17 tahun.

Memulai karier sebagai pebasket sejak duduk di bangku kuliah, Perkins terus menunjukkan progres oke. Bersama almamaternya, North Carolina, ia menyabet gelar juara NCAA pada 1982.

Lalu, teman kuliah Michael Jordan itu langsung diboyong oleh Dallas Mavericks pada 1984. Di sana, ia tercatat bermain selama enam musim. Lalu, ia melanjutkan karier ke LA Lakers selama tiga musim, Seattle Supersonics lima musim, dan Indiana Pacers tiga tahun.

Sedangkan di level timnas basket Amerika Serikat, Perkins menjadi salah satu penggawa yang mempersembahkan medali emas bola basket putra di Los Angeles pada 1984.

Saat ini, Perkins menyibukkan dirinya dengan kegiatan kepelatihan. Dia juga bekerja sama dengan Jr NBA Indonesia untuk melakukan coaching clinic di Jakarta pada 8 - 10 September silam.

Baca: Daftar Anak Indonesia yang Terpilih Menjadi Jr NBA Indonesia All-Stars 2017


Sebelum melatih anak-anak, Metrotvnews.com berkesempatan wawancara khusus bersama Perkins di Hotel Fairmont, Jakarta, 6 September. Dia bercerita bagaimana persaannya mendapatkan medali emas Olimpiade dan  kedekatannya dengan Michael Jordan. Berikut petikan wawancaranya. 

Bagaimana perasaan Anda berada di Jakarta? 

Saya sangat senang bisa kembali lagi ke sini, saya sudah lama tidak kembali lagi di sini, pasti anak-anak di sini sudah banyak perkembangan. 

Apa kesibukan Anda sekarang? 

Saya kembali ke Amerika dan melatih anak-anak kecil serta melatih anak-anak berkebutuhan khusus, saya juga bekerja dengan NBA dan melanjutkan pekerjaan yang sudah saya lakukan beberapa tahun belakangan ini. 

Bagaimana Anda melihat kegiatan coaching clinic di Jakarta? 

NBA selalu berusaha mencari cara baru untuk melatih anak-anak. Sebab, anak-anak adalah pondasi apa yang kita lakukan. Saya juga datang ke negara lain seperti Indonesia, Maroko, Eropa, dan Asia agar mereka mengenal olahraga basket. Memang, basket bukanlah olahraga terkenal di negara-negara tersebut, mereka lebih senang dengan sepak bola, karena sepak bola olahraga paling populer dan sekarang mereka bisa menegetahui olahraga basket, dan bisa melihat pemain bintang olahraga basket.


Sam Perkins ketika diwawancara Metrotvnews.com. (Foto: MTVN/Dimas Prastyianing)

Menurut Anda bagaimana potensi anak-anak Indonesia?

Saya sempat bertemu dengan seorang anak Indonesia yang ingin menjadi atlet basket Indonesia dan ingin menjadi atlet NBA Indonesia pertama, jadi dia mengirim email ke saya dia berkata ingin menjadi pemain basket NBA pertama, mudah-mudahan bisa terwujud. Sebab, NBA memiliki pemain dari banyak negara seperti Jerman, Spanyol, Afrika dan memiliki beragam pemain dari berbagai tempat. Jadi, mengapa tidak dari Indonesia juga mewakili.

Baca: Menpora Optimistis Indonesia Juara Umum ASEAN Para Games 2017


Apa makna basket untuk Anda?

Ini adalah olahraga yang saya pelajari dari nol sampai pada satu titik di mana saya bisa masuk ke kampus mana pun yang saya mau. Kamu harus mempelajari permainan ini karena keinginan kamu. Jika kamu mencintai olahraga ini, maka kamu akan menyenanginya. Olahraga ini telah membuat saya melihat dunia dan bertemu banyak orang. Olahraga ini membantu pendidikan saya. Olahraga ini telah mengajarkan banyak hal pada saya. Basket juga mengajarkan tentang kehidupan. Banyak orang yang saya kenal berkata mereka belajar banyak hal melalui basket.

Bagaimana perasaan Anda setelah mendapatkan medali emas Olimpiade 1984?

Untuk dapat bisa terpilih dari begitu banyak pemain, itu seperti jebakan, karena saya harus bisa bermain sebagus mungkin bersama-sama dengan pemain yang tidak kalah hebatnya. Itu adalah masa seleksi yang sengit, tiga kali sehari berlatih pagi, siang, dan malam. Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.

Namun, setelah saya masuk ke dalam tim, semua hal itu sangatlah setimpal, apalagi kami berhasil memenangkan turnamen, apalagi saya kira kita adalah tim terakhir yang merupakan tim amatir, setelah itu ada perubahan peraturan di mana pemain profesional bisa bergabung. Saya bermain dengan Michael (Jordan), Steve Alford, dan banyak sekali pemain lainnya, itu adalah pengalaman yang sangat berkesan.

Seberapa dekat Anda dekat dengan Michael Jordan?

Kami berteman dekat, tetapi kami bukan teman sekamar. Sebab, kamarnya ada di sebelah kamar saya. Kami memiliki waktu yang menyenangkan saat kuliah, saat kami menyelesaikan kuliah, kami mengambil jalan hidup yang berbeda. Dia tumbuh di Chicago dan saya pergi ke Dallas dan ke Los Angeles.

Michael akan selalu menjadi Michael, dia meroket di NBA. Sebelumnya saya bermain bersama dia, dan kemudian saya bermain melawan dia.

Ada yang ingin disampaikan kepada para peserta coaching clinic?

Setelah menyelesaikan program ini, tetap berlatih, tetap melakukan apa yang kalian lakukan. Program ini tidak banyak membahas soal sekolah, namun sekolah sangatlah penting. Kami pemain NBA, selalu mengatakan sekolah adalah hal yang utama, dan kedua adalah bola basket.

Video: 50 Anak Indonesia Ikuti Coaching Clinic Bersama Mantan Pemain NBA

(ASM)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA SPORTSLAINNYA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017