Hilang Akal Karena First Travel

- 12 Agustus 2017 07:28 wib
??Hilang Akal karena First Travel
??Hilang Akal karena First Travel

KENDATI kasus investasi bodong dan semacamnya silih berganti dibongkar aparat, sebagian rakyat negeri ini tak juga menjadikannya sebagai pelajaran. Mereka tetap saja silau dengan iming-iming menggiurkan hingga ujung-ujungnya menjadi korban penipuan.

Bukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali, kasus seperti itu terjadi. Masih lekat dalam ingatan publik ketika lima tahun silam bisnis menyimpang yang dilakukan Koperasi Langit Biru terungkap. Tak tanggung-tanggung, sekitar 140 ribu nasabah yang diiming-imingi bunga selangit menjadi korban penipuan dengan kerugian Rp6 triliun.

Awal tahun ini, kejadian serupa terulang. Ratusan ribu investor menjadi korban penipuan dan penggelapan Koperasi Pandawa Group. Tak tanggung-tanggung pula, total kerugian Rp3 triliun. Kasus mutakhir menimpa puluhan ribu orang yang tergiur iming-iming ibadah umrah ke Tanah Suci dengan harga miring oleh First Travel. Jumlah kerugian dalam perkara ini ditengarai mencapai Rp500 miliar. Polisi telah menetapkan pemilik First Travel yang merupakan pasangan suami istri, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, sebagai tersangka.

Kita prihatin, sangat prihatin, kasus demi kasus seperti itu terus saja memakan korban. Kita menyesalkan, amat menyesalkan, publik tak mau belajar dari pengalaman dan dengan gampangnya masuk perangkap penipuan.

Kenapa kasus-kasus semacam itu terus ada dari waktu ke waktu? Dari sisi pelaku, mereka sebenarnya tak perlu keahlian khusus. Yang diperlukan hanyalah keberanian dan kenekatan untuk memanfaatkan sifat sebagian orang yang ingin mewujudkan keinginan dengan cara instan, murah, dan gampang. Sifat itulah yang membuat mereka enggan berpikir panjang apakah tawaran pelaku masuk akal atau tidak.

Hal itu pula yang membuat ribuan umat teperdaya oleh iming-iming umrah dengan biaya cuma sekitar Rp14 juta yang ditawarkan First Travel. Padahal, normalnya, biaya untuk umrah paling tidak Rp19 juta. Memang, sebagian dari mereka bisa berangkat dengan biaya semurah itu, tetapi sebagian besar lainnya harus gigit jari kendati telah menyetorkan uang.

Penyebab lain kenapa masih banyak masyarakat yang mudah terjebak ialah minimnya kesadaran mereka akan pentingnya literasi finansial. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan menunjukkan tingkat literasi atau kecakapan masyarakat terhadap kegiatan finansial hanya sekitar 29,6% pada 2016. Bandingkan dengan indeks inklusi keuangan masyarakat pada 2016 yang mencapai 67,8%. Itu artinya tingginya akses terhadap lembaga keuangan tidak dibarengi dengan kecakapan keuangan.

Hal itu menunjukkan masih banyak orang ogah menggunakan nalar mereka ketika mendapat tawaran menggiurkan padahal tak masuk akal. Oleh karena itu, menjadi tugas pemerintah melakukan edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan. Namun, yang tak kalah penting, aparat terkait mesti meningkatkan daya endus dan kesigapan dalam mengawasi berbagai ragam kegiatan finansial yang melibatkan masyarakat.

Harus kita katakan, kasus First Travel terjadi juga tak lepas dari lambannya pemerintah untuk bertindak. Bukankah perusahaan itu sudah mulai merambah bisnis perjalanan ibadah umrah sejak 2011? Bukankah First Travel secara terbuka di banyak media membeberkan tawaran umrah dengan biaya yang sangat jauh dari biaya normal?

Betul bahwa Kementerian Agama sebagai pemberi izin operasional sudah beberapa kali memanggil First Travel, tetapi jika lebih jeli, dugaan penipuan ini rasanya bisa ditindak sejak dini. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini selain mesti menindak tegas pelaku, yang tak kalah penting ialah menghindarkan korban dari kerugian.

First Travel harus dipaksa memberangkatkan mereka ke Tanah Suci atau mengembalikan uang yang sudah disetorkan. Yang lebih penting lagi, kasus itu harus menjadi pelajaran bagi rakyat untuk mengedepankan akal sehat setiap kali berurusan dengan kegiatan keuangan.



ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INVESTASI BODONG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EDITORIAL MEDIA INDONESIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-10-2017