Tepikan Pertikaian Majukan Persatuan

- 17 Mei 2017 07:39 wib
Tepikan Pertikaian Majukan Persatuan
Tepikan Pertikaian Majukan Persatuan

PERSATUAN, saat ini, menjadi ujian terberat Indonesia. Rajutan dan harmoni kemajemukan sebagai fondasi persatuan terus menyusut nyaris menuju titik nol. Jika hal itu dibiarkan, eksistensi Indonesia sebagai negara kesatuan pun dalam ancaman bahaya.

Padahal, negeri ini dibangun dari berkumpulnya emosi persatuan yang amat kental para pendiri bangsa. Akan tetapi, yang terjadi kini justru sangat ironis. Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi bahaya paling gawat dalam soal kesatuan dan persatuan.

Ini bukan omong kosong. Fakta memperlihatkan bahwa persatuan, persaudaraan, perdamaian, dan toleransi antarumat, antarkelompok, dan antargolongan kini tak lagi sekukuh dulu. Yang menguat justru polarisasi di antara anak bangsa yang amat mudah disulut, dipanas-panasi, dan menimbulkan gesekan serta pertengkaran.

Ketika roh persatuan meredup, roh-roh partisan yang bergentayangan. Pada titik itulah tonggak-tonggak perpecahan amat leluasa memperkuat diri. Di saat yang sama pilar kebangsaan dibiarkan melemah. Pancasila dicuekin, keberagaman diabaikan, kemajemukan dinafikan, perbedaan bukan dimaknai sebagai rahmat dan malah menjadi peluru pertikaian.

Miris? Tentu saja. Namun, itu bukan berarti kita boleh pasrah. Inilah waktunya kita bangun, bergerak menyingkirkan roh-roh partisan agar tak makin menjalar, sekaligus membulatkan lagi komitmen dan emosi persatuan. Tidak gampang, memang, tapi harus dimulai hari ini bila kita tak ingin makin terpanggang api pertengkaran.

Presiden Joko Widodo saat menerima sejumlah tokoh lintas agama di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin, juga telah meminta agar gesekan antarkelompok di masyarakat segera dihentikan.

"Jangan saling menghujat karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekkan karena kita ini adalah saudara. Jangan saling memfitnah karena kita ini adalah bersaudara. Jangan kita saling mendemo. Habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif seperti itu."

Kepicikan yang berwujud dalam tindakan intoleran, bahkan sampai melakukan kekerasan atas nama keyakinan, etnik, juga kelompok, memang tak seharusnya dibiarkan hidup di negara ini. Seluruh anak bangsa mesti patuh dan kembali pada konsensus pendirian Republik ini, tentang kebangsaan, tentang NKRI, tentang kebinekaan.

Karena itu, sangat relevan bila Presiden, dalam kesempatan itu, juga memerintahkan Kapolri dan Panglima TNI untuk tidak ragu-ragu menindak tegas segala bentuk tindakan dan ucapan yang mengganggu persatuan dan persaudaraan. Polisi dan tentara sudah diberi perintah untuk menghukum para oportunis sejati yang mengganggu NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, yang tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Komitmen Presiden mestinya menjadi pelecut bagi publik, terutama kaum elite, untuk juga menggaungkan lagi spirit persatuan di tengah segala perbedaan dan keragaman. Spirit untuk membangun demokrasi yang sehat dan mendukung penegakan hukum. Kesampingkan pertikaian, mari bersama-sama kita membuat suasana yang panas menjadi sejuk dan yang tidak normal kembali menjadi normal.


ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EDITORIAL MEDIA INDONESIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 29-05-2017