Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.373.849.226 (17 JUNI 2018)

Menjaga Prinsip Dasar Berbangsa

- 24 Agustus 2016 06:16 wib
Menjaga Prinsip Dasar Berbangsa
Menjaga Prinsip Dasar Berbangsa

EKSISTENSI bangsa ini tidak akan bisa lepas dari prinsip-prinsip dasar yang fondasinya telah dibangun dengan susah payah oleh para pendiri Republik. Sayangnya, justru sebagian besar ketidakmampuan anak bangsa ini memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan merawat warisan terbaik dari masa lalu.

Banyak legacy yang diupayakan dengan susah payah oleh para pendiri bangsa kerap dianggap sebagai bagian masa lalu yang usang. Ia dianggap tidak lagi kompatibel dengan kekinian kendati hal-hal yang disebut sebagai 'kekinian' itu menabrak prinsip-prinsip dasar dalam berbangsa.

Tengoklah ketika banyak elite di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila, demi hal-hal pragmatis. Sebagian elite di negeri ini mudah silau oleh hal-hal yang dianggap 'wah' oleh bangsa lain sehingga cara serampangan pun dipraktikkan demi menggapai hal yang dianggap 'wah' tersebut.

Kondisi seperti itulah yang terjadi saat sebagian elite bangsa ini membentangkan karpet merah secara serampangan guna memberikan kemudahan kepada anak bangsa yang dianggap cemerlang demi mendapatkan status kewarganegaraan dan selanjutnya menduduki posisi strategis. Padahal, di antara anak bangsa yang disebut cemerlang itu, nyata-nyata telah disumpah untuk menjadi warga negara lain.

Bahkan, demi meraih hal-hal pragmatis jangka pendek tersebut, aturan pun dikesampingkan. Prinsip kesetaraan anak bangsa di depan hukum pun ditabrak. Tidak mengherankan jika banyak yang mengkritik kita mengalami amnesia yang parah tentang makna kemerdekaan dan perjuangan melahirkan ideologi kebangsaan. Kita terlampau mudah menukar hal-hal prinsip kebangsaan tanpa kajian yang mendalam dengan rupa-rupa tujuan jangka pendek yang amat pragmatis.

Kalau bicara kecemerlangan, masih banyak anak bangsa di negeri ini yang sangat pintar dan tetap menggenggam kewarganegaraan Indonesia siap membaktikan diri untuk kepentingan Republik. Mereka telah bertahun-tahun mendedikasikan loyalitas terhadap Republik ini dengan cara bekerja di ruang-ruang sunyi. Mereka berpeluh tanpa perlu sorotan kamera. Tinggal akses yang belum menghampiri sehingga mereka belum ditarik ke orbit yang lebih inti di pemerintahan.

Justru orang-orang seperti itulah yang layak didekatkan kepada akses utama penggerak pembangunan. Akan tidak adil bila kita memberi karpet merah untuk mereka yang selama puluhan tahun nyaris tidak lagi bersentuhan dengan jatuh bangunnya Republik ini, tetapi mengabaikan para loyalis bangsa yang berjerih payah.

Karena itu, bila kita hendak memanfaatkan kemampuan siapa pun anak bangsa yang dianggap cemerlang yang telanjur berkewarganegaraan asing, berikan kesempatan mengurus kewarganegaraan hingga tuntas secara sewajarnya saja, tanpa perlu jalan khusus. Bangsa ini memang harus merangkul seluruh komponen masyarakat agar membawa nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan. Seperti itulah wajah Indonesia sebenarnya. Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati. Keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Jangan sampai prinsip-prinsip kebangsaan yang telah mengakar tersebut tercerabut karena alasan-alasan praktis pragmatis yang seolah indah di awal, tetapi mencelakakan di ujung.


ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEBANGSAAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EDITORIAL MEDIA INDONESIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 18-06-2018