DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.052.810.215 (14 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Cawapres Penentu Kemenangan

- 10 Juli 2018 08:05 wib
Cawapres Penentu Kemenangan
Cawapres Penentu Kemenangan

Pendaftaran pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk berlaga dalam Pemilu 2019 tinggal 25 hari lagi. Masa pendaftaran dibuka selama enam hari mulai 4 Agustus. Sampai sekarang belum ada pasangan yang secara resmi dideklarasikan.

Mencari dan menentukan pasangan capres dan cawapres tidaklah mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak mudah karena tak satu pun dari 14 partai politik peserta pemilu yang berhak mengajukan calon sendirian. Mereka harus berkoalisi untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden sebesar 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional.

Sekalipun aturan ambang batas pencalonan presiden saat ini tengah diuji di Mahkamah Konstitusi, Presiden Joko Widodo sudah mengantongi dukungan dari lima partai politik untuk maju kembali. Kelima partai tersebut ialah PDIP, Golkar, PPP, NasDem, dan Hanura. Gabungan lima partai itu mempunyai 290 dari 560 kursi parlemen atau 51,78%.

Sejauh ini, calon kuat penantang Jokowi ialah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Partai Gerindra masih mengintensifkan komunikasi dengan empat partai lain yang belum mempunyai calon presiden, yaitu Demokrat, PKB, PKS, dan PAN. Lobi-lobi dilakukan baik di ruang terang maupun gelap.

Baik Jokowi maupun Prabowo masih mencari cawapres. Syarat formal seorang wapres ialah harus bisa bekerja sama dengan presiden. Menurut konstitusi, wapres membantu presiden dalam menjalankan kewajibannya.

Ada syarat lain bagi cawapres. Posisi cawapres ternyata tidak hanya berperan penting dalam pemenangan pilpres, tapi juga menentukan soliditas koalisi partai politik pengusung capres-cawapres. Dengan perkataan lain, cawapres harus memiliki peluang keterpilihan yang tinggi dan bisa diterima partai koalisi.

Jokowi sudah jauh-jauh hari berkomunikasi dengan partai pendukungnya untuk mencari sosok cawapres. Siapa pun cawapres yang diumumkan Jokowi pastilah figur yang sudah disetujui partai pendukungnya. Kini tinggal diumumkan. Meminjam istilah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, tinggal menanti cuaca cerah.

Posisi cawapres bagi penantang Jokowi tentu jauh lebih kompleks lagi. Jangankah bicara capres, partai koalisinya saja belum jelas. Karena itulah, rakyat menanti kepiawaian Prabowo untuk segera membentuk poros penantang Jokowi.

Rakyat menanti dengan cemas apakah Prabowo mampu membentuk koalisi. Sangatlah beralasan jika rakyat cemas karena mereka tidak sudi jika Jokowi bertanding dengan kotak kosong di Pilpres 2019 kendati undang-undang membuka peluang untuk itu.

Pilihan bagi Prabowo terbatas karena politik menyangkut memberi dan menerima. Partai politik yang diajak berkoalisi tentu saja menyodorkan kader untuk posisi cawapres.

Sejauh yang beredar di ruang publik, Prabowo bisa berkoalisi dengan PKS asalkan cawapresnya dari kader PKS atau sosok yang didukung mereka, misalnya Anies Baswedan. Pilihan lain ialah Prabowo berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono jika Gerindra berkoalisi dengan Demokrat.

Konstelasi penantang Jokowi bisa saja di luar prediksi menjelang tenggat sebab kebanyakan partai politik gemar menjalani politik injury time. Akan tetapi, siapa pun cawapres yang dipilih Jokowi dan Prabowo, publik sangat berharap agar mereka dideklarasikan secepatnya.

Deklarasi jelang tenggat bisa dianggap sebagai taktik atau siasat untuk mengacaukan skenario lawan. Akan tetapi, belajar pada Pilkada 2018, pasangan calon injury time malah berguguran. Hal itu menunjukkan bahwa pemilih sudah cerdas. Mereka memilih atas pertimbangan rekam jejak, kinerja, visi-misi, dan program pasangan capres-cawapres.




ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILPRES 2019
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EDITORIAL MEDIA INDONESIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 19-11-2018