DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 45.764.339.104 (19 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Hukuman Mati bagi Teroris

- 19 Mei 2018 09:08 wib
Hukuman Mati bagi Teroris
Hukuman Mati bagi Teroris

Terdakwa lima kasus terorisme, Aman Abdurrahman, dituntut mati, kemarin.  Barangkali banyak orang mensyukuri tuntutan itu dan berharap hakim kelak menjatuhkan hukuman mati kepada Aman. Akan tetapi, perdebatan uzur tentang hukuman mati mencuat lagi.

Meski sudah terjadi setidaknya sejak zaman Babilonia, kita memang masih pantas mendebatnya. Argumen dari kubu yang mendukung dan menolak hukuman mati belum tuntas menjawab keadilan dan logika kita.

Kita bisa menimbang kepantasan hukuman itu dari sederet teori dan penelitian terkini. Namun, ada kalanya yang menampar kita ialah hal paling sederhana, seperti senyuman sang terdakwa. Itulah yang ada di persidangan kemarin.

Seperti biasanya, Aman yang didakwa sebagai aktor intelektual bom Gereja Samarinda (2016), bom Thamrin (2016), dan bom Kampung Melayu (2017), serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017), menebar senyum di persidangan.

Pembawaannya pun tidak kurang santai ketimbang sidang sebelumnya. Betul bahwa yang berkecamuk di hatinya bisa berbeda. Namun, sikap yang ditampakkan telah memperkuat argumen mengenai tidak timbulnya efek jera dari hukuman mati.

Selama ini telah banyak dikaji hukuman-hukuman mati yang diterapkan di berbagai negara nyatanya tidak memperlihatkan efek jera yang jelas. Tindak kejahatan serupa terus terjadi dan bahkan dilakukan dari lingkaran komunitas yang sama.

Di negeri ini contoh nyatanya bukan hanya dari kasus terorisme, melainkan juga dari kasus narkoba. Sudah banyak kita jatuhkan hukuman mati pada bandar narkoba, tetapi penerus mereka tidak berhenti tumbuh.

Dalam kasus terorisme, negara menghukum mati para pelaku bom Bali, misalnya. Akan tetapi, lahir teroris-teroris baru. Itu artinya hukuman mati bagi teroris tak serta-merta membuat terorisme pudar. Argumen lain mengatakan hukuman mati memang bagai pisau tumpul bagi kelompok-kelompok biadab itu.

Bicara kematian dengan para bandar narkoba memang sudah seperti bicara risiko bisnis, sementara buat para teroris, kematian malah jadi kebanggaan. Bagi mereka, kematian menjadi jalan menebus kerinduan menghuni surga.

Karena itu, menghukum mati mereka seperti membuka jalan bagi mereka menggenapi kerinduan itu. Tidak mengherankan jika senyum pun tersungging di wajah mereka. Di sisi lain, bisa pula kita singkirkan soal kebahagiaan teroris itu.

Toh, ada nilai keadilan bagi korban dan masyarakat luas serta, tidak kalah penting pula, soal pertimbangan ketertiban umum. Malah jika kita perpanjang pertimbangan hukuman mati ke ajaran-ajaran agama, diskusi bisa makin pelik.

Hukuman mati dengan berbagai variannya tidaklah asing dalam ajaran agama-agama. Ajaran agama mengenalkan 'nyawa dibayar nyawa'. Namun, di sisi lain, agama juga mengajarkan untuk berbelas kasih dan memaafkan.

Kemuliaan pemaafan tidak sedikit dicontohkan dengan begitu terpuji oleh umat beragama yang menjadi korban kelompok teroris ini yang mengatasnamakan agama tertentu. Begitu pun jika hukuman mati bukan pilihan, sebenarnya tidak pula permasalahan tuntas.

Pilihan hukuman seumur hidup sejatinya membawa pekerjaan rumah besar pada program deradikalisasi di dalam ataupun di luar tahanan. Hanya dengan cara itu, sel-sel teroris sesungguhnya dapat dimatikan.

Terlebih kita juga telah berulang kali diberi pelajaran mahal bagaimana aksi teror dibimbing dan dikomandoi oleh para terpidana. Oleh karena itu, seiring dengan kita terus mendebat efektivitas hukuman mati, sebesar itu pula kewajiban kita dalam menuntut program deradikalisasi yang efektif.


ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EDITORIAL MEDIA INDONESIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 21-10-2018