Bahaya Politik Identitas Menurut Imam Prasodjo

Nur Azizah - 17 Mei 2017 15:41 wib
Imam Prasodjo. Antara Foto/Wahyu Putro
Imam Prasodjo. Antara Foto/Wahyu Putro

Metrotvnews.com, Jakarta: Politik identitas bukan barang baru di era demokrasi. Pengamat sosial Imam B. Prasodjo mengatakan, politik identitas menjadi cara ampuh untuk menjaring pemilih sebanyak-banyaknya.

Akan tetapi, strategi ini memiliki risiko yang tak kalah mengerikan. Imam menuturkan, politik identitas yang dikemukakan secara berlebihan bisa memercikan api dan menyulut konflik.

Ia meminta masyarakat menyudahi politik identitas. Ia khawatir, bila itu terus digulirkan bisa membuat jurang pemisah lebih terjal.

"Jangan diduplikasi dan digulirkan dengan cara yang sama. Jangan biarkan jurang semakin lebar. Harus dipersiapkan dari sekarang," kata Imam, Rabu 17 Mei 2017.

Imam menjelaskan, meredam dampak politik identitas dengan cara menghentikan menyebut kelompok dengan nama negatif atau name calling. Misal, menyebut suatu kelompok agama kafir, sesat, atau sebagainya.

"Kalau ini tidak dihentikan mereka akan saling menyebut dengan nama-nama negatif. Sebutan itu bisa menyinggung dan menyakitkan lebih dalam," tutur dia.

Imam meminta pemerintah memfasilitasi kelompok untuk menyampaikan aspirasinya. Selain itu, pemerintah harus menumbuhkan kesadaran dan pola pikir masyarakat tentang bernegara.

Lebih lanjut, Imam meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika aktif memblokir ujaran kebencian yang tersebar di dunia maya. Walaupun ia sadar, cara tersebut belum bisa menyentuh hingga ke akar.

"Lalu, media mainstream juga harus melaksanakan jurnalisme damai untuk meredam isu SARA," pungkasnya.


(TRK)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PILGUB DKI 2017
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA NEWS (PILKADA)
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 23-09-2017