DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

'Haji Backpacker,' Kisah Mada yang Galau Mencari Tuhan

Agustinus Shindu Alpito - 30 September 2014 09:50 wib
Abimana Arsatya (Foto:Antara/Teresia May)
Abimana Arsatya (Foto:Antara/Teresia May)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejak film-film bertemakan agama laris di pasaran, para produser mulai menjadikan jenis film ini sebagai komoditas andalan.

Pada 2 Oktober 2014, satu film drama berbalut religi kembali hadir, "Haji Backpacker." Film arahan sutradara Danial Rifki ini menggebrak perfilman Indonesia dengan tagline yang terdengar sangar, yaitu "9 Negara Satu Tujuan." Ya, film Indonesia ini mengambil gambar di sembilan negara sekaligus, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Nepal, Tibet, India, Iran, dan Arab Saudi.

Siapa pun tahu, biaya membuat film tidak murah. Terlebih jika mengambil lokasi di luar negeri. Toh, itu tetap dijalani jika secara hitungan matematika akan mendatangkan keuntungan berlimpah.

"Haji Backpacker" menceritakan kehidupan tokoh bernama Mada (Abimana Aryasatya), seorang badboy, cuek, tidak punya rencana masa depan yang matang. Mada yang kecewa terhadap ayahnya memutuskan kabur berkelana tak tentu rimba. Yang penting, jauh dari keluarga. Kira-kira seperti itu yang ada di benak Mada. Thailand diceritakan sebagai negara pertama yang disinggahi Mada.

Di negara itu sebuah insiden terjadi, Mada terlibat perkelahian yang berujung pada pembunuhan. Untuk menghindari kejaran aparat dan pihak yang ingin membalas dendam, Mada hijrah ke Vietnam.

Lantaran tidak memiliki modal, Mada hidup terkatung-katung. Bekerja serabutan dan hidup nomaden. Setiap kali Mada terlelap, ia teringat bayang-bayang ayahnya. Seseorang yang telah membuatnya sangat kecewa hingga memilih pergi dari rumah. Sayangnya, tidak dijelaskan hal apa yang memicu konflik antara Mada dengan sang ayah.

Sebagai film yang menyandang judul dua kata, "haji" dan "backpacker," tokoh Mada gagal merepresentasikan keduanya. Proses haji kerap digambarkan sebagai perjalanan spiritual umat muslim yang sakral. Tetapi, dalam film "Haji Backpacker," perjalanan spiritual Mada tidak diceritakan secara rinci. Kecuali, melalui mimpi yang absurd dan implisit.

Proses titik balik Mada dari seorang pengelana tanpa perasaan menjadi sosok sentimental juga terjadi begitu saja. Tanpa adanya dramaturgi yang menghentak penonton hingga tersadar bahwa seseorang bisa mengalami perubahan spiritual dengan berbagai cara. Salah satu adegan yang terus digambarkan memicu Mada untuk kembali religius adalah mimpi yang mendatanginya terus menerus.

Sekali lagi, tidak ada penjelasan mengapa dia bermimpi atau makna mimpi itu. Apakah memang adegan itu dibuat agar penonton bebas melakukan interpretasi? Tetapi konflik antara Mada dan ayahnya yang tidak diceritakan secara jelas membuat sulit menerka apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebagai backpacker, Mada kurang menampilkan sikap seorang petualang. Secara logika, seorang backpacker akan terus menggali negara yang disinggahinya. Baik dari segi pariwisata, kultur, kehidupan sosial, atau bahkan spiritual. Tetapi porsi Mada mengeksplorasi negara yang disinggahinya sangat sedikit. Mada hanya digambarkan bekerja serabutan di negara yang disinggahinya dan kemudian scene lekas berganti dengan negara selanjutnya.

Walau begitu, "Haji Backpacker" patut diapresiasi karena mampu menampilkan akting Abimana yang natural, juga dengan dialog yang cukup baik. Visual yang mumpuni juga dihadirkan dalam film ini. Tata visual sangat rapi dan mencoba menampilkan estetika dalam tiap frame.

Kehadiran dua perempuan yang mengisi cerita saat Mada berada di Thailand (Laudya Cynthia Bella) dan Tiongkok (Laura Basuki) agaknya tidak bisa menyelamatkan penokohan Mada sebagai seseorang yang sedang berkecamuk batinnya.

"Haji Backpacker" sebenarnya cukup menghibur. Cocok sebagai film yang dinikmati bersama keluarga di akhir pekan. Tetapi, degradasi makna perjalanan spiritual sangat terasa dengan kurangnya penokohan yang ditampilkan.

Film ini mungkin akan mengulang kembali ledakan film religi di Indonesia, terutama tema yang ditawarkan sejalan dengan hari raya Idul Adha yang jatuh dua hari setelah film ini diputar di bioskop.


(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG FILM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA FILM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 11-12-2018