DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 41.348.051.099 (17 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Bahaya Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep saat Bepergian

Sri Yanti Nainggolan - 14 Juni 2018 14:00 wib
(Foto: Shutterstock)
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Saat sedang berlibur atau mudik, tak sedikit orang yang membawa obat-obatan untuk jaga-jaga.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Helsinki mengungkapkan bahwa kebanyakan pelancong membawa antibiotik, tanpa rekomendasi, saat terkena diare ringan atau sedang. Padahal, mereka tak membutuhkannya.

Akibatnya, bisa memicu peningkatan resistensi antimikroba karena penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tak terkontrol.

Umumnya, saat kembali ke rumah, sekitar sepertiga pelancong yang ke daerah tropis biasanya akan membawa multiresisten usus. Risiko terkena bakteri seperti itu berlipat ganda dengan minum antibiotik selama perjalanan.

Untuk menghindari pemakaian antibiotik yang tak diperlukan, para peneliti mencari tahu terlebih dulu apa yang membuat para pelancong menggunakan antibiotik.

"Untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu, faktor-faktor yang mendasari perlu dieksplorasi," kata Anu Kantele, pimpinan proyek.

Penelitian tersebut melibatkan 316 pelancong yang mengalami diare selama mereka berlibur ke daerah tropis. Sekitar 53 orang telah membawa antibiotik dari Finlandia.

Alasan paling umum untuk penggunaan antibiotik adalah diare, penyakit yang paling umum di kalangan wisatawan di daerah tropis, diikuti oleh infeksi pernapasan.

Sebagai faktor risiko yang terkait dengan penggunaan antibiotik, para peneliti mengidentifikasi jumlah antibiotik, gangguan seperti muntah dan diare, kegiatan keseharian, dan kontak dengan perawatan kesehatan lokal di tempat tujuan.

Hasilnya, mereka yang membawa antibiotik dan tidak membawa antibiotik menggunakan terapi antibiotik dengan perbandingan 34 persen dan 11 persen. Diare berat diobati dengan antibiotik yang sama pada kedua kelompok, namun pembawa antibiotik juga menggunakannya untuk diare ringan dan sedang.

"Menurut pedoman Finlandia, antibiotik harus digunakan untuk pasien diare dengan demam tinggi atau penyakit yang sangat parah atau kondisi memburuk, atau jika mereka memiliki penyakit yang mendasari yang dapat menjadi diperburuk," kata Kantele.

"Dengan kata lain, antibiotik hanya boleh digunakan untuk mengobati diare berat, sedangkan untuk terapi penyakit ringan dan sedang dan obat non-antibiotik cukup."

Selain tingkat keparahan diare, faktor yang membuat para pelancong menggunakan antibiotik adalah pengalaman subjektif tentang gangguan aktivitas sehari-hari.

"Dokter di Finlandia dan tempat lain harus berhenti secara rutin meresepkan antibiotik terhadap diare para pelancong," saran Kantele.





(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TIPS KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 18-10-2018