3 Tingkat Kedewasaan Mental

Fitra Iskandar - 01 Juli 2016 15:34 wib
Orang yang mencapai kedewasaan seutuhnya tidaklah menafikan hubungan. Ia tidak menggantungkan hidup pada hubungan tetapi tidak juga menolaknya. (Ilustrasi:AFP)
Orang yang mencapai kedewasaan seutuhnya tidaklah menafikan hubungan. Ia tidak menggantungkan hidup pada hubungan tetapi tidak juga menolaknya. (Ilustrasi:AFP)

KETIKA membahas kedewasaan, benak kita langsung terlintas kemandirian. Yup, memang kedewasaan berkaitan erat dengan kemandirian. Untuk menjadi orang yang dewasa kita perlu bersikap mandiri.

Anak kecil, yang masih membutuhkan pengawasan, bimbingan, dan bantuan orangtuanya tentu belum bisa mencapai kedewasaan mental. Ia masih bergantung sepenuhnya kepada orangtuanya. Semua keputusan yang menyangkut hidupnya ditentukan oleh orangtua.

Nah, apabila ada orang yang jika dilihat dari umur terbilang dewasa tetapi masih bergantung kepada orang lain, maka orang itu belum bisa disebut dewasa. Seperti anak kecil, ia belum bisa membuat keputusan hidupnya sendiri. Bukan hanya itu, ia juga menggantungkan perasaan/emosinya kepada orang lain.

Contoh, dia memusatkan hidup pada pasangannya. Apa pun keputusan hidupnya tergantung pada pasangan. Jika pasangannya berbuat baik kepadanya, maka ia bahagia. Tetapi, jika pasangannya berbuat jahat kepadanya, ia down dan tak bisa bangkit lagi.

Contoh lain, dia menggantungkan hidup pada lingkungan. Karenanya, ia menjadi haus penerimaan sosial. Busana yang ia pakai sesuai dengan selera orang-orang di lingkungannya. Buku yang ia baca juga sesuai dengan selera lingkungan. Demikian juga dengan gaya hidupnya. Intinya, ia berpikir bahwa jika ia berbeda dari lingkungannya maka ia tidak akan diterima.

Menurut Stephen Covey, tingkat kedewasaan orang seperti itu masuk dalam tahap dependensi/kebergantungan.  Sebaliknya, orang yang sudah bisa membuat keputusannya sendiri tanpa perlu persetujuan orang lain masuk dalam tahap independensi/kemandirian.

Tetapi, independensi bukanlah tingkat terakhir kedewasaan. Orang yang mandiri dan tidak menggantungkan keputusan hidupnya kepada orang lain belum tentu dewasa seutuhnya. Ini terjadi apabila kemandiriannya justru menjadikannya beranggapan bahwa hubungan adalah kelemahan dan karenanya menolak segala bentuk hubungan, baik hubungan pernikahan, pertemanan, atau ikatan keluarga. Ia merasa tidak membutuhkan hubungan karena menurutnya hubungan justru membebani hidupnya.

Lalu, di mana letak kekurang-matangannya?

Letak kekurang-matangannya ada pada anggapan bahwa hubungan hanya membebani hidupnya.

Orang yang mencapai kedewasaan seutuhnya tidaklah menafikan hubungan. Ia tidak menggantungkan hidup pada hubungan tetapi tidak juga menolaknya. Sebaliknya, dengan hubungan, ia bisa mencapai tujuan bersama.
Contoh, orang yang meskipun mandiri tetapi tetap bersedia menjalin hubungan pernikahan. Pasangan bukan dijadikan sebagai tempat bergantung tetapi sebagai teman yang setara.  

Menurut Covey, orang seperti ini sudah mencapai tahap terakhir kedewasaan, yakni tahap interdependensi.


Agus Setiawan, C.Ht
Subconscious Coach,
Penulis 3 Buku Laris Bacakilat, The Art of Reading & Bacakilat For Student.
CEO Aquariuslearning.co.id
Master Trainer dari Bacakilat.com

Anda pun dapat berkonsultasi dengan Agus Setiawan mengenai berbagai hal terkait dunia pikiran di rona.metrotvnews.com. Silakan kirim pertanyaan Anda ke advisrona@gmail.com.


(FIT)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG DUNIA PIKIRAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-09-2017