DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

PBB: Dampak Perubahan Iklim Lebih Terasa pada Wanita

Sri Yanti Nainggolan - 09 Maret 2018 18:08 wib
Studi lain yang berdurasi 20 tahun mencatat bahwa peristiwa bencana menurunkan harapan hidup wanita lebih banyak daripada pria. (Foto: Leon Biss/Unsplash.com)
Studi lain yang berdurasi 20 tahun mencatat bahwa peristiwa bencana menurunkan harapan hidup wanita lebih banyak daripada pria. (Foto: Leon Biss/Unsplash.com)

Jakarta: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa wanita cenderung lebih merasakan dampak perubahan iklim dibanding pria. 

Organisasi dunia tersebut mengindikasikan bahwa persen orang yang mengungsi karena perubahan iklim adalah wanita.

Berperan sebagai pengasuh utama dan penyedia makanan membuat wanita lebih rentan saat terjadi bencana banjir dan kekeringan. Perjanjian Paris tahun 2015 telah membuat ketentuan khusus untuk pemberdayaan perempuan, dengan mengakui bahwa gender tersebut telah terkena dampak secara tak seimbang. 

Di pusat Afrika, 90 persen dari Danau Chad telah menghilang dimana kelompok pribumi nomaden sangat berisiko. Seiring dengan garis pantai danau yang surut, wanita harus berjalan lebih jauh untuk mengumpulkan air.

"Pada musim kering, para pria pergi ke kota dan meninggalkan wanita untuk mengurus komunitas," ujar Hindou Oumarou Ibrahim, koordinator Asosiasi Perempuan Adat dan Orang Chad (AFPAT) kepada BBC.

Karena musim kering berdurasi lebih lama, wanita bekerja lebih keras dan mengurus keluarga tanpa dukungan. 


(Studi lain yang berdurasi 20 tahun mencatat bahwa peristiwa bencana menurunkan harapan hidup wanita lebih banyak daripada pria. Foto: Suhyeon Choi/Unsplash.com)

(Baca juga: Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Picu Alergi)

"Mereka menjadi lebih rentan karena bekerja sangat keras," tambah Ibrahim.

Segera setelah kejadian ekstrem, tempat penampungan darurat tidak memiliki perlengkapan cukup untuk mendukung kebutuhan wanita, PBB mengungkapkan.

The Superdome, di mana pengungsi sementara ditempatkan setelah Badai Katrina, tidak memiliki cukup produk sanitasi untuk wanita yang ditampung di sana.

PBB telah menyoroti kebutuhan akan respons sensitif gender terhadap dampak perubahan iklim, namun rata-rata keterwakilan perempuan di badan perunding iklim nasional dan global di bawah 30 persen.

Studi lain yang berdurasi 20 tahun mencatat bahwa peristiwa bencana menurunkan harapan hidup wanita lebih banyak daripada pria; lebih banyak wanita terbunuh, atau mereka terbunuh lebih muda.  

Namun, perbedaan angka cenderung berkurang di negara-negara di mana wanita memiliki kekuatan sosioekonomi yang lebih besar.









(TIN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 14-12-2018