Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

Cerebral Palsy: Gejala, Ciri, dan Penanganannya

- 10 Januari 2018 16:03 wib
Seorang anak penderita cerebral palsy mendapatkan fisioterapi dari tenaga ahli. (Foto: Shutterstock)
Seorang anak penderita cerebral palsy mendapatkan fisioterapi dari tenaga ahli. (Foto: Shutterstock)

Jakarta: Cerebral palsy atau yang lebih dikenal dengan lumpuh otak mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Namun perlu diketahui bahwa penyakit yang menyerang saraf otak ini bukan jenis penyakit yang bisa disembuhkan.

Cerebral palsy terjadi ketika jaringan dalam otak terjadi kelumpuhan yang memengaruhi otot, saraf, dan motorik sehingga penderitanya akan kesulitan melakukan gerakan normal dan terkoordinasi.

Dokter Spesialis Saraf Frandy Susatia mengatakan cerebral palsy bisa disebabkan banyak faktor. Infeksi saat kehamilan, janin terlilit pusat dan bayi kekurangan oksigen di dalam rahim, cedera kepala saat lahir karena rongga panggul ibu terlalu kecil, dan sebagainya.

"Bisa juga karena jatuh pada usia awal anak misalnya belajar berjalan kepala terbentur dan terjadi perdarahan dalam sehingga menyebabkan kerusakan otak yang permanen," ungkapnya, dalam Newsline, Rabu 10 Januari 2018.

Meski tidak dapat disembuhkan, Frandy mengatakan cerebral palsy bisa dicegah. Misalnya tidak mengonsumsi obat-obatan yang terkadang dosisnya disamakan ketika sebelum hamil dan saat hamil.

Pemeriksaan kesehatan termasuk uji laboratorium juga dinilai perlu untuk mengetahui apakah sang ibu mengalami infeksi virus seperti tokso, rubella, campak, herpes, jamur, dan penyakit lainnya yang berpotensi membawa cacat lahir bagi anak.

"Kalau sudah terkena tidak bisa disembuhkan karena sudah terjadi kerusakan yang cukup permanen. Tetapi bisa dicegah, dan terapi saat pasiennya sudah menderita cerebral palsy," katanya.

Umumnya cerebral palsy tidak diketahui dengan cepat. Orang tua perlu lebih waspada ketika perkembangan buah hati tampak tidak normal dan tidak sesuai dengan usianya.

Seorang ibu, kata Frandy, umumnya akan lebih jeli. Sejak lahir hingga usia 5 tahun tumbuh kembang anak bisa dipantau apakah sesuai dengan usianya atau cenderung terlambat.

Gejala anak yang kemungkinan menderita cerebral palsy adalah ketika mereka melakukan sesuatu hanya menggunakan satu tangan saja, tangan lainnya didiamkan dan tidak mau bergerak. Atau kakinya bengkok dan saat berjalan sering berjinjit.

Cerebral palsy juga bisa ditandai dengan gangguan perkembangan. Misalnya usia 8 bulan belum mau merangkak, satu tahun belum mau berjalan, kemudian air liur keluar terus menerus, dan ada postur tubuh yang tidak berkembang normal seperti bengkok, kontraktur atau pemendekan otot dan sendi.

"Ibu biasanya lebih jeli kalau mulai terlihat gejala bawa ke dokter dan cari tahu penyebabnya, apakah ada sesuatu yang bisa dicegah atau bisa dilakukan terapi," kata Frandy.

Ia menambahkan terapi bagi penderita cerebral palsy bisa dimulai dengan terapi okupasi seperti belajar menggenggam, terapi sensorik dan motorik, dan sebagainya.

"Bisa datang ke dokter anak atau dokter saraf karena biasanya cerebral palsy itu kelainannya ada di dalam struktur otak," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN SARAF
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-07-2018