DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Gaya Hidup Sehat Turunkan Risiko Demensia hingga 20 Persen

Sri Yanti Nainggolan - 07 Juli 2018 19:15 wib
Gaya Hidup Sehat Turunkan Risiko Demensia hingga 20 Persen (Foto: shutterstock)
Gaya Hidup Sehat Turunkan Risiko Demensia hingga 20 Persen (Foto: shutterstock)

Jakarta: Sebuah studi Lancet menemukan bahwa mengatur beberapa gaya hidup seperti merokok, hipertensi, dan depresi dapat mencegah sepertiga kasus demensia di dunia.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa manajemen yang lebih baik dari sembilan faktor risiko (termasuk merokok, hipertensi, dan depresi) pada awal, tengah dan akhir dapat mengurangi kemungkinan berkembangnya demensia pada sekitar 35 persen kasus.

"Potensi besarnya efek pada demensia mengurangi faktor-faktor risiko ini lebih besar dari yang pernah kita bayangkan dari efek yang saat ini. Mitigasi faktor risiko memberi kita cara yang ampuh untuk mengurangi beban global demensia," kata Lon Schneider, Profesor di University of Southern California.

Dengan meningkatkan pendidikan di awal kehidupan dan mengatasi gangguan pendengaran, hipertensi dan obesitas di usia paruh baya, kejadian demensia dapat dikurangi sebanyak 20 persen.
 
Berhenti merokok, mengobati depresi, meningkatkan aktivitas fisik, meningkatkan kontak sosial dan mengelola diabetes dapat mengurangi insidensi demensia hingga 15 persen lainnya pada usia lanjut, kata para peneliti.

Hampir 47 juta orang di seluruh dunia mengalami demensia dan pada tahun 2030, jumlah ini diperkirakan akan naik setinggi 66 juta dan pada tahun 2050, itu akan mencapai 115 juta.

Studi ini juga menyoroti efek menguntungkan dari intervensi nonfarmakologis seperti kontak sosial dan olahraga untuk orang dengan demensia.

Intervensi psikologis, sosial dan lingkungan seperti kontak sosial, terapi stimulasi kognitif dan olahraga ditemukan lebih unggul dibandingkan obat antipsikotik untuk mengobati agitasi terkait demensia dan mampu meningkatkan kognisi.

"Obat antipsikotik biasanya digunakan untuk mengobati agitasi dan agresi, tetapi ada kekhawatiran substansial tentang obat ini karena peningkatan risiko kematian, efek samping dan infeksi kardiovaskular, belum lagi sedasi berlebihan," tambah Schneider.


 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 25-09-2018