DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Studi: Tidur Larut Meningkatkan Risiko Kematian

Sri Yanti Nainggolan - 14 April 2018 19:40 wib
Studi: Tidur Larut Meningkatkan Risiko Kematian (Foto: shutterstock)
Studi: Tidur Larut Meningkatkan Risiko Kematian (Foto: shutterstock)

Jakarta: Apakah Anda tipikal orang yang suka tidur larut malam dan sulit bangun di pagi hari? Jika demikian, sebaiknya segera hilangkan kebiasaan 'burung hantu' tersebut.

Sebuah penelitian menemukan bahwa perilaku tersebut dapat meningkatkan risiko kematian lebih cepat dibandingkan mereka yang tidur dengan jam normal.

Penelitian yang melibatkan setengah juta orang tersebut menunjukkan bahwa gaya hidup 'burung hantu' memicu lebih banyak penyakit dibandingkan orang yang terbiasa bangun di pagi hari.

Tipikal tersebut berisiko 10 persen lebih tinggi mengalami kematian dibandingkan mereka yang tidur normal, demikian menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Chronobiology International.

"Tipikal burung hantu yang mencoba hidup di pagi hari kemungkinan memiliki konsekuensi kesehatan dalam tubuh," ujar pemimpin studi Kristen Knutson dari Northwestern University, Feinberg School of Medicine di Chicago, Amerika Serikat.

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa orang yang begadang memiliki tingkat diabetes, gangguan psikologis dan gangguan neurologis lebih tinggi.

"Bisa jadi mereka memiliki jam biologis internal yang tidak sesuai dengan lingkungan eksternal mereka," kata Knutson.

"Hal itu bisa menjadi tekanan psikologis, makan pada waktu yang salah untuk tubuh mereka, tidak cukup berolahraga, tidak cukup tidur, terjaga di malam hari sendiri, bahkan mungkin menggunakan narkoba atau alkohol. Ada berbagai macam perilaku tidak sehat yang berhubungan dengan tidur larut malam sendirian," tambahnya.

Untuk penelitian ini, para peneliti memeriksa hubungan antara kecenderungan alami individu terhadap pagi atau malam hari dan risiko kematian mereka.

Mereka melibatkan lebih dari 433 ribu peserta berusia 38-73 tahun dan membagi dalam empat tipe waktu beraktivitas: pasti pagi, pagi sedang, malam sedang, pasti malam. Enam tahun kemudian, jumlah kematian dihitung.

Temuan tersebut menyarankan agar para pengusaha memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam jam kerja untuk membantu para pekerja memiliki pola yang lebih teratur.

"Ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang tidak bisa lagi diabaikan," kata Malcolm von Schantz, Profesor di University of Surrey di Inggris.

Genetika dan lingkungan memainkan peran yang hampir sama dalam hal apakah kita adalah tipe pagi atau malam, atau di suatu tempat di antara keduanya.

"Anda tidak hancur. Sebagian dari itu Anda tidak memiliki kendali atas dan sebagian dari itu Anda mungkin," pungkas Knutson.

Salah satu cara untuk mengubah perilaku Anda adalah memastikan Anda terpapar cahaya di pagi hari tetapi tidak di malam hari, saran Knutson.

 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG STUDI KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 16-12-2018