Obat Tidur bukan Solusi Insomnia

Indriyani Astuti - 09 Agustus 2017 15:36 wib
(Foto: Medicalnewstoday)
(Foto: Medicalnewstoday)

Metrotvnews.com, Jakarta: Aktor Tora Sudiro tengah menjalani proses hukum karena penyalahgunaan psikotropika dumolid, salah satu jenis obat penenang. Dalam pemeriksaan oleh pihak kepolisian, Tora dan istrinya menyatakan sudah setahun mengonsumsi dumolid. Obat yang dibeli tanpa resep dokter itu mereka gunakan saat kesulitan tidur.

Sejatinya, mengandalkan obat penenang semata untuk mengatasi kesulitan tidur atau insomnia dapat berakibat buruk termasuk menyebabkan ketergantungan.

Penanggung jawab Sleep Clinic Rumah Sakit Premier Bintaro, Tangerang, Lanny S Tanudjaya menjelaskan penanganan insomnia yang tepat hanya bisa dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu hal-hal yang menyebabkan seseorang mengalami sulit tidur. Menurut Lanny, banyak faktor penyebab insomnia, faktor psikis dan nonpsikis. "Faktor psikis misalnya pindah ke lingkungan baru atau karena peristiwa yang mengganggu psike seseorang seperti kehilangan, juga kecemasan dan depresi," ujarnya, kemarin.

Faktor nonpsikis, misalnya, konsumsi obat-obatan tertentu yang menyebabkan kesulitan tidur atau karena penyakit tertentu yang dapat mengganggu seseorang untuk tertidur seperti asma, nyeri punggung, alergi, atau sleep apnea yakni gangguan henti napas saat tidur sehingga terbangun dan sulit tidur kembali.

"Biasanya, orang yang mengalami insomnia meminum obat penenang atau obat tidur. Sebenarnya, kita tidak pernah merekomendasikan obat tidur untuk kasus-kasus kronis (menahun)," kata Lanny.

Obat tidur, ujar Lanny, hanya dibutuhkan dalam keadaan tertentu, seperti ketika mengalami jetlag di luar negeri karena perbedaan waktu. Namun, dosis dan jangka waktu penggunaannya dibatasi.

"Kalau terus-terusan mengonsumsi obat tidur, lama-kelamaan akan muncul ketergantungan, bahkan semakin lama membutuhkan dosis yang lebih besar atau golongan obat yang lebih berat. Jadi, rekomendasinya bukan obat tidur, melainkan mencari penyebab insomnianya," tegasnya.

Ia menekankan penggunaan obat, termasuk obat tidur, harus sesuai dengan indikasi. Penyalahgunaan obat tanpa indikasi yang jelas atau dipakai secara terus-menerus dengan dosis yang besar akan berefek serius, seperti menimbulkan gangguan fungsi ginjal.

Lanny menambahkan tidur amat penting bagi kesehatan. Orang dewasa membutuhkan waktu tidur 6 sampai 8 jam per hari sehinga tubuh dapat beristirahat dan memperbarui sel-sel yang rusak setelah beraktivitas sepanjang hari. Insomnia dalam waktu yang lama, imbuh dia, dapat berdampak pada tubuh dan psike.

"Akibat insomnia kronis antara lain jadi lebih mudah sakit, kerja-kerja organ tubuh juga akan terganggu karena tidak punya waktu untuk meregenerasi sel. Apabila dibiarkan, lama-kelamaan bisa menyebabkan penyakit tertentu seperti hipertensi, gangguan aliran darah ke otak akan terganggu. Kurang tidur juga menyebabkan emosi kita akan labil, lebih mudah marah. Selain itu, karena mengantuk di siang harinya, produktivitas juga menurun," terang Lanny.

Terapi substitusi

Hal senada juga disampaikan dokter spesialis kesehatan jiwa Elisa Tandiono. Ia mengatakan pemakaian obat tidur secara sembarangan dapat menimbulkan efek merugikan dan membahayakan.

Dumolid, misalnya, merek generik dari kelas obat benzodiazepin yang diresepkan sebagai obat penenang itu, bila dikonsumsi secara terus-menerus dapat menyebabkan ketergantungan. Semakin lama itu digunakan, tubuh akan membangun toleransi terhadap efek obat tersebut. Toleransi obat pada akhirnya membuat pemakainya meningkatkan dosis untuk mencapai efek yang sama dari dosis sebelumnya. Pada akhirnya, itu menyebabkan ketergantungan.

"Ada toleransinya, misalnya sekarang pakai dosis tertentu setelah beberapa saat makin lama makin naik. Pada saat tidak pakai ada gejala sakaw, kalau tadinya tenang, justru kebalikannya jadi cemas dan bahkan benar-benar tidak bisa tidur," terang Elisa.

Orang yang sudah mengalami ketergantungan terhadap obat tidur, lanjut Elisa, perlu diterapi. Umumnya, terapi substitusi dilakukan, yakni mengganti dengan jenis obat yang relatif lebih aman.

"Lalu, dikurangi pelan-pelan dosisnya untuk mengindari kecanduan dan efek samping yang tidak diinginkan," ucapnya.

Menurut statistik, sambung Elisa, sepertiga orang dewasa mengaku pernah mengeluh susah tidur, tetapi yang benar-benar tidak bisa tidur hanya 10-15 persen. Karena itu, penyebabnya perlu dicari tahu terlebih dahulu.

Elisa mengatakan, apabila gangguan sulit tidur karena permasalahan psikis seperti depresi dan cemas, dianjurkan berkonsultasi ke psikiater. Sulit tidur juga bisa disebabkan gaya hidup seperti terlalu banyak mengonsumsi kafein atau alkohol dalam jangka panjang.


(DEV)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TIPS KESEHATAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 17-08-2017