Durasi Tidur yang Lama Membuat Pola Makan Makin Sehat

Sri Yanti Nainggolan - 13 Januari 2018 17:37 wib
Durasi Tidur yang Lama Membuat Pola Makan Makin Sehat (Foto: shutterstock)
Durasi Tidur yang Lama Membuat Pola Makan Makin Sehat (Foto: shutterstock)

Jakarta: Jika Anda ingin lebih bijak dalam memilih makanan sehat, cobalah tidur lebih lama. Sebuah studi menemukan bahwa tidur dengan durasi yang lebih lama di malam hari dapat membantu mengurangi keinginan untuk mengkonsumsi makanan manis.

Tidur adalah faktor risiko yang bisa dimodifikasi pada berbagai kondisi kesehatan seperti obesitas atau penyakit metabolis-kardio, mengingat banyak orang dewasa cenderung kurang tidur.

Sebuah percobaan kontrol acak yang dilakukan oleh King’s College London ingin melihat kemungkinan dari peningkatan jam tidur pada orang dewasa yang umumnya tidur kurang dari tujuh per hari. Mereka melakukan investigasi percontohan untuk melihat dampak dari jam tidur yang meningkat pada asupan nutrisi. Mereka menemukan bahwa tambahan pola tidur dapat mengurangi sekitar 10 gram pengambilan makanan manis gratis.

Para peneliti juga menyadari adanya tren penurunan konsumsi karbohidrat pada kelompok dengan jumlah tidur lebih banyak.

"Fakta bahwa memperpanjang tidur dapat menurunkan konsumsi gula gratis, maksudnya yang ditambahkan pada makanan, menunjukkan bahwa perubahan sederhana dalam gaya hidup dapat membantu orang menjalani pola makan lebih sehat," ujar investigator Dr Wendy Hall, dari Department of Nutritional Sciences.

Sebanyak 21 partisipan melakukan konsultasi tidur selama 45 menit yang bertujuan untuk memperpanjang waktunya di tempat tidur hingga 1,5 jam per malam. Sebanyak 21 partisipan lain yang masuk dalam kelompok kontrol tidak mendapat intervensi dalam pola tidur mereka.

Setiap peserta dalam kelompok penyuluhan tidur menerima daftar dengan minimal empat perilaku kebersihan tidur yang sesuai dengan gaya hidup mereka (seperti menghindari kafein sebelum tidur, membuat rutinitas santai dan tidak terlalu banyak tidur atau lapar) dan jam tidur yang direkomendasikan.

Selama tujuh hari setelah konsultasi, para partisipan terus mencatat waktu tidur dan makanan yang diasup setiap hari dan menggunkana sensor gerak di pergelangan tangan untuk mengetahui secara pasti berapa lama mereka tidur dan waktu yang dihabiskan di kasur sebelum tidur.

Sebanyak 86 persen dari mereka yang melakukan saran mengaku mengalami peningkatan dalam hal jumlah waktu yang dihabiskan di kasur dan setengahnya menyalai peningkatan durasi tidur (antara 52-90 menit). Tiga partisipan mencapai rata-rata mingguan dalam tujuh hingga sembilan jam, seperti rekomendasi. Tak ada perbedaan signifikan pada kelompok kontrol.

Data tersebut juga menyarankan, bagaimanapun, bahwa tidur yang diperpanjang ini mungkin lebih rendah daripada kelompok kontrol. Namun, para periset percaya bahwa periode penyesuaian terhadap rutinitas baru mungkin diperlukan.

"Durasi dan kualitas tidur adalah area untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dan dikaitkan sebagai faktor risiko untuk berbagai kondisi. Kami telah menunjukkan bahwa kebiasaan tidur dapat diubah dengan relatif mudah pada orang dewasa sehat dengan menggunakan pendekatan personal," tukas peneliti utama Haya Al Khatib.

"Hasil kami juga menunjukkan bahwa peningkatan waktu tidur selama satu jam atau lebih dapat menyebabkan pilihan makanan yang lebih sehat. Hal ini semakin memperkuat hubungan antara tidur pendek dan diet berkualitas rendah yang telah diamati oleh penelitian sebelumnya."

Ia berharap, akan ada penelitian lanjutan jangka panjang untuk memeriksa asupan nutrisi dan kepatuhan terhadap perilaku penyuluhan tidur secara lebih rinci, terutama pada populasi yang berisiko mengalami obesitas atau penyakit kardio-vaskular.

 


(ELG)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TIDUR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-04-2018