Gangguan Jiwa Disebabkan Kimia Otak yang tidak Stabil

- 10 Oktober 2017 17:08 wib
Ilustrasi. Pasien Rumah Sakit Jiwa di Kendari berada di salah satu kamar menunggu dimandikan tim medis di Kendari, Sulawesi Tenggara. (Foto: ANTARA/Jojon)
Ilustrasi. Pasien Rumah Sakit Jiwa di Kendari berada di salah satu kamar menunggu dimandikan tim medis di Kendari, Sulawesi Tenggara. (Foto: ANTARA/Jojon)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Yossy Agustanti Indrajaja mengatakan gangguan jiwa bisa terjadi pada siapa saja. Namun yang paling berpotensi mengalami gangguan jiwa salah satu faktor risikonya adalah genetik atau keturunan.

Menurut Yossy, gangguan terjadi karena kimia otak tidak stabil sehingga menghasilkan sinyal-sinyal yang salah. Misalnya, penderita mendengar suara padahal tidak ada orang lain di dekatnya, atau merasa curiga dan terancam akan hal-hal yang orang normal tidak rasakan.

"Atau mengalami kesedihan yang terus menerus. Hal ini bisa diperbaiki dengan obat, penanganan pertamanya dengan pengobatan," kata Yossy, dalam Newsline, Selasa 10 Oktober 2017.

Yossy mengatakan tujuan pengobatan adalah agar gejala yang dialami penderita mereda. Pengobatan membantu kondisi penderita lebih baik karena sinyal-sinyal yang salah yang sebelumnya menyebabkan gangguan menjadi hilang.

Tujuan lainnya adalah bagaimana penderita bisa berfungsi kembali di tengah masyarakat. Sebab penderita yang sudah tidak berfungsi misalnya sulit melakukan segala sesuatunya sendiri dan cenderung sangat malas kemungkinan mengalami gangguan jiwa yang cukup berat.

"Dengan pengobatan. misalnya gangguan jiwa skizofrenia bila diobati dengan benar dia akan kembali berfungsi di masyarakat," kata Yossy.

Umumnya orang mengaitkan gangguan jiwa dengan perilaku aneh seperti berbicara sendiri, tiba-tiba tertawa atau menangis dan sedih berlebihan. Namun harus diketahui bahwa gangguan jiwa bisa bermacam-macam.

Yossy mengatakan kecemasan berlebihan, depresi atau perasaan sedih yang kronis bisa juga dikatakan sebagai gangguan jiwa. Sebab, penyebabnya sama karena kimia otak tidak berfungsi secara stabil.

"Bisa dikatakan berat, sedang, ringan dari gangguan aktivitasnya. Kalau aktivitas sehari-harinya masih dilakukan itu ringan, kalau sudah malas berarti kategorinya sedang dan ketika untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari saja malas, misalnya malas mandi itu sudah mengalami gangguan depresi berat," katanya.

Selain pengobatan, gejala gangguan jiwa juga bisa diintervensi oleh penderitanya dengan rutin berolahraga. Olahraga akan membuat kimia otak seperti serotonin dan endorfin akan meningkat.

"Penelitian di Colombia University, dengan berolahraga akan terbentuk pembuluh darah baru sehingga 6 bulan kemudian bisa meningkatkan konsentrasi dan hal positif. Yang penting belajar untuk positif thinking dan mengatasi masalah dengan benar," jelasnya.




(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KESEHATAN MENTAL
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA KESEHATAN
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 12-12-2017